Gara-gara Pilpres, Target KPR Bank BTN Kendor Tahun Ini

Market - Yanurisa Ananta, CNBC Indonesia
24 January 2019 16:12
Gara-gara Pilpres, Target KPR Bank BTN Kendor Tahun Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTNmenargetkan pertumbuhan penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) akan sedikit melandai tahun ini, tumbuh sekitar 15% atau turun 2% dari realisasi penyaluran KPR tahun 2018 sebesar 17-18%.

"Tahun ini, kami memang merencanakan menurunkan target KPR dibanding tahun sebelumnya. Belum approval OJK, [tapi] kami sudah submit in term of 15% total," kata Direktur Collection and Asset Management BTN Nixon Napitupulu, beberapa waktu lalu di Jakarta.

Pertumbuhan yang melambat itu akan terjadi pada KPR nonsubsidi atau KPR yang dibeli dengan motif investasi. Sementara, untuk KPR subsidi diperkirkan masih tumbuh signifikan 95%, mengingat peluang subsidi bunga yang diberikan pemerintah.



Dengan demikian, katanya, bank yang dibentuk tahun 1897 dengan nama Postspaarbank ini akan lebih banyak menyalurkan KPR bersubsidi.

Menurut Nixon, perlambatan pertumbuhan kredit itu disebabkan kondisi pertumbuhan makroekonomi yang diproyeksi turun tahun ini. Namun demikian, perlambatan itu diprediksi hanya terjadi hingga semester satu.

Di semester dua, pertumbuhan penyaluran KPR akan kembali melesat. Terlebih lagi, jika interest rate mengalami penurunan.

"Apakah terpengaruh tahun politik? Maybe yes, maybe no. Tapi kalau rumah kebutuhan sehari-hari sebetulnya kan di BTN itu kebanyakan orang yang baru pertama kali beli rumah. Itu dia tidak terpengaruh political event," lanjut Nixon.


Secara historis, penyaluran KPR di BTN selalu melambat di kuartal I. Penyaluran KPR baru gencar dilakukan di kuartal IV. "Selalu begitu, kuartal IV selalu jadi peak ke penjualan rumah dan peak pemberian KPR kepada konsumen." pungkas Nixon.

Per September 2018, BTN
mencatatkan laba bersih Rp 2,24 triliun atau tumbuh 11,51% dibandingkan periode yang sama tahun 2017 sebesar Rp 2 triliun.
Kenaikan laba bersih ditopang oleh penyaluran kredit yang tumbuh 19,2% dari Rp 184,5 triliun menjadi Rp 220,7 triliun.

[Gambas:Video CNBC]

(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading