Selama Tak Bayar Utang, Suspensi Saham Express Tak Dibuka

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
17 December 2018 17:35
Selama Tak Bayar Utang, Suspensi Saham Express Tak Dibuka
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan penghentian perdagangan saham (suspensi) PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) masih akan dilakukan hingga perusahaan menyelesaikan proses restrukturisasi obligasnya dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada pekan pertama Februari 2019 mendatang.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI IGD N Yetna Setia mengatakan bursa masih akan memonitor pelaksanaan restrukturisasi yang dilakukan perusahaan. Bersamaan dengan itu, kinerja keuangannya juga masih akan menjadi sorotan perusahaan.

"Tahapan monitoring Bursa berikutnya pada pelaksanaan RUPS atas adanya penerbitan saham dari obligasi konversi tersebut dan penerbitan obligasi konversi yang berpotensi menambah jumlah saham. (Serta) performance operasional dan keuangan tentunya," kata Yetna di Gedung BEI, Jakarta, Senin (17/12).

Adapun RUPS nanti akan dilakukan perusahaan dalam rangka restrukturisasi surat utag obligasinya dengan nilai emisi yang mencapai Rp 1 triliun.


TAXI akan melakukan restrukturisasi dengan dua jalan yakni konversi obligasi menjadi kepemilikan saham senilai Rp 400 miliar yang akan dimintai persetujuan pemegang sahamnya pada Februari nanti. Kedua, senilai Rp 600 miliar akan dijadikan sebagai obligasi konversi tanpa bunga dengan tanggal jatuh tempo pada 31 Desember 2020.

Perusahaan terlebih dahulu akan menjualkan aset-aset yang dijaminkan perusahaan untuk obligasi ini, jika nilainya tak menutupi nilai obligasi tersebut maka sisanya akan dikonversi menjadi saham.

Hingga akhir kuartal III, perusahaan masih mencatatkan rugi bersih Rp 537,96 miliar. Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya di mana perusahaan rugi Rp 210,58 miliar.

Membengkaknya kerugian perusahaan karena peningkatan beban dan penurunan pendapatan usaha. Pendapatan TAXI pada kuartal III-2018 mencapai Rp 187,02 miliar, angka ini anjlok 19,27% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Beban langsung perusahaan turun menjadi Rp 334,03 miliar dari sebelum Rp 350,36 miliar. Namun, perusahaan mencatatkan beban penurunan nilai yang mencapai Rp 11 miliar dan beban penurunan aset tetap karena kerugian sebesar Rp 185,91 miliar. Di saat yang sama perusahaan menanggung beban bunga Rp 122,83 miliar.

Aset perusahaan mencapai Rp 1,56 triliun. Angka ini lebih rendah dibandingkan aset pada akhir 2017 sebesar Rp 2,01 triliun. Liabilitas perusahaan naik dari Rp 1,76 triliun menjadi Rp 1,85 triliun. (hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading