Konflik AS-China Belum Reda, Bagaimana Harga Batu Bara 2019?

Market - Fetty Diana, CNBC Indonesia
06 December 2018 16:03
Konflik AS-China Belum Reda, Bagaimana Harga Batu Bara 2019?
Jakarta, CNBC Indonesia- Hubungan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang panas dingin membuat pengusaha deg-degan dengan kondisi harga batu bara di tahun depan.

Hal ini diungkap oleh Direktur Keuangan PT Indika Energy Tbk (INDY) Azis Armand, dalam wawancara bersama CNBC Indonesia TV. Azis menjelaskan batu bara adalah komoditas yang tergantung dengan penawaran dan permintaan. Dari sisi permintaan, sampai saat ini permintaan terbesar masih datang dari China.




Sementara, permintaan batu bara mengikuti pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Seperti diketahu, pertumbuhan ekonomi negeri tirai bambu ini sedang jadi sorotan karena konflik perang dagang dengan AS. "Trade war ini masih terus berkembang apakah masih ada gencatan senjata 90 hari ataupun tidak itu adalah hal di luar kontrol kita sebenarnya, tetapi secara global dan bagaimana pengaruhnya itu terhadap permintaan batu bara. Perkembangan dari semua ini harus kita lihat sebagai faktor yang pengaruhi permintaan," katanya, Kamis (06/12/2018).

Dari sisi penawaran, akan tergantung dengan rencana produksi perusahaan dan cuaca. "Harga 2019 akan sangat tergantung bukan hanya permintaan dari China tetapi juga penawaran kita, bagaimana rencana produksi kami kalau memang tidak menguntungkan buat apa juga dipaksakan produksi," jelasnya.

Untuk itu, perusahaan mengambil langkah konservatif untuk target produksi tahun depan yang disamakan dengan tahun ini yakni sekitar 34 juta ton. "Jadi kami merasa pertahankan tingkat produksi yang sama tahun ini salah satu strategi untuk tidak terlalu memberikan signal yang buruk terhadap pasar. Kami akan selalu harapkan akan ada volatility."

Belajar dari tahun ini, sebenarnya harga batu bara masih lanjutkan perkembangan 2017 yang masih merangkak naik karena permintaah menguat. Namun di akhir tahun, harga agak terseok ketika China melakukan pengumuman untuk membatasi impor yang efektif November ini. "Sementara kan rencana pengapalan, penjualan, dan pasar terkejut menerima berita ini, sehingga agak inbalance terjadi volatility." (gus/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading