Situasi Sulit, Industri Properti Tumbuh di Bawah 10% di 2019

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
05 December 2018 13:52
Situasi Sulit, Industri Properti Tumbuh di Bawah 10% di 2019
Jakarta, CNBC Indonesia - Industri properti nasional pada 2019 diprediksi bisa di bawah 10%, atau di bawah pertumbuhan tahun ini. Asumsi pertumbuhan sektor properti tersebut dihitung berdasarkan situasi industri yang belum sepenuhnya pulih, sejak mengalami tekanan di 2012.

Ketua Kompartemen Properti Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Eddy Hussy, mengatakan target pertumbuhan 10% tersebut juga mempertimbangkan adanya pelaksanaan pemilihan umum yang akan berlangsung tahun depan.

"Pertumbuhan sekitar di bawah 10% belakangan ini. Tahun depan kan ada pemilu, sementara properti itu salah satu investasi yang sifatnya jangka panjang. Jadi kalau orang mau beli properti untuk investasi, orang pasti melihat situasi dan pertumbuhan ekonomi dan juga situasi politik," kata Eddy.

Eddy tak terlalu yakin secara industri properti bisa tumbuh lebih tinggi pada 2019 dibandingkan 2010. Namun dia yakin pasokan properti, baik rumah, perkantoran, apartemen, dan jenis properti lainnya tetap ada.


Untuk merangsang industri properti, lanjut Eddy, ada beberapa hal yang diminta oleh pengusaha salah mendorong kemudahan dari sisi pendanaan. Kemudahanan akses pendanaan yang dimaksud adalah menggalang dana dari pasar modal dari Kontrak Investasi Kolektif-Dana Investasi Real Estat (KIK-DIRE).

Sekedar informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian Keuangan sudah membuat regulasi dan insentif pajak untuk KIK-DIRE yang dikeluarkan melalui paket kebijakan. Namun dalam pelaksanaannya masih terkendala oleh besaran pajak yang harus dibayar pengembang untuk mernerbitkan KIK-DIRE.

Aspek perpajakan dari KIK-DIRE adalah besaran tarif Bea atas Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang besarannya ditetapkan maksimal 5%. Di mana masing-masing daerah bisa melakukan penyesuaian, tergantung dari peraturan daerah masing-masing.

"Seperti instrumen DIRE itu belum berjalan di Indonesia, karena besaran pajak terutama BPHTB. Diharapkan bisa turun turun kurang dari 5%," kata Eddy.


Eddy juga menyampaikan, dalam kurun waktu 2-3 tahun terakhir harga rumah dan apartemen cenderung turun. "Banyak produk yang diluncurkan untuk perumahan maupun apartemen unit dan sebenarnya harganya lebih rendah dari 2-3 tahun lalu. Office space sekarang peluang bagus terkait digital ekonomi yang berkembang," pungkas Eddy.
(hps/wed)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading