Perang Dagang Mereda, Harga CPO Melesat 2 Hari Beruntun

Market - Raditya Hanung, CNBC Indonesia
29 November 2018 13:38
Perang Dagang Mereda, Harga CPO Melesat 2 Hari Beruntun
Jakarta, CNBC IndonesiaHarga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) kontrak Februari 2019 di Bursa Derivatif Malaysia naik 0,74% ke MYR 2.029/ton pada perdagangan hari Kamis (29/11/2018) hingga pukul 11.30 WIB, atau penutupan perdagangan sesi 1.

Dengan pergerakan itu, harga komoditas unggulan agrikultur Malaysia dan Indonesia mampu mencetak penguatan 2 hari berturut-turut, pasca kemarin juga naik nyaris 2,5%. Harga CPO pun pulih dari rekor terendah dalam 39 bulan terakhir, atau sejak akhir Agustus 2015.

BACA: CPO Mulai Bangkit dari Harga Terendah, Tapi Masih Rentan


Faktor yang mendorong kenaikan harga hari ini adalah penguatan harga minyak kedelai serta harga minyak mentah yang mampu rebound.



Pada penutupan perdagangan kemarin, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) tercatat meroket 2,10 % pada perdagangan kemarin. Penguatan itu menjadi kedua harinya secara beruntun, setelah sebelumnya juga naik 0,74%.

Kenaikan harga kedelai dipengaruhi optimisme pelaku pasar pada hasil pertemuan G20 di Buenos Aires pada 30 November dan 1 Desember. Pada pertemuan tersebut, Washington dan Beijing diharapkan akan membicarakan konflik dagang yang terjadi di antara mereka.

Perkembangan teranyar, Penasihat Ekonomi Gedung Putih Lawrence 'Larry' Kudlow menyatakan bahwa optimisme merebak jelang pertemuan Trump-Xi di Argentina. Ada kemungkinan Washington dan Beijing akan mencapai kesepakatan yang signifikan.

"Ada kemungkinan yang cukup besar kami akan mencapai kesepakatan. Beliau (Trump) terbuka untuk itu," kata Kudlow, mengutip Reuters.

Pernyataan Kudlow melegakan pelaku pasar. Masih ada harapan Trump melunak dan bisa sepaham dengan China untuk mengakhiri perang dagang. Hal ini menjadi sentimen positif bahwa arus perdagangan kedelai akan kembali lancar ke depannya, tanpa hambatan bea masuk.

Seperti diketahui, harga CPO dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak nabati lainnya, seiring mereka bersaing memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global. Ketika harga kedelai naik, kecenderungannya adalah harga CPO akan ikut menguat.

Selain itu, hari ini harga minyak mentah juga mampu rebound dari level terendahnya dalam 1 tahun lebih, atau sejak Oktober 2017. Hingga pukul 09.32 WIB hari ini, harga minyak jenis brent kontrak Januari 2019 naik 0,34% ke level US$ 58,96/barel. Di waktu yang sama, harga minyak jenis light sweet kontrak Januari 2019 menguat 0,64% ke level US$ 50,61/barel.

Sentimen aura dagang juga mampu mengatrol harga sang emas hitam. Pemulihan ekonomi global tentunya akan meningkatkan permintaan energi yang sebelumnya diekspektasikan lesu.

Kenaikan harga minyak mentah memang cenderung mengatrol harga CPO yang merupakan bahan baku biofuel. Biofuel sendiri merupakan salah satu substitusi utama bagi bahan bakar minyak (BBM). Saat harga minyak dunia naik, produksi biofuel menjadi lebih ekonomis. Hal ini lantas menjadi sentimen meningkatnya permintaan CPO.

Meski demikian, jangan dilupakan bahwa harga CPO masih punya tantangan yang menghadang dari sisi fundamental. Pasalnya, pelaku pasar masih khawatir stok minyak kelapa sawit di Malaysia akan melambung pada penghujung tahun ini. Produksi diperkirakan akan melambung pada 2 bulan terakhir tahun ini, sesuai dengan pola musimannya.

Di saat produksi bertambah, permintaan malah diekspektasikan lesu. Ekspor produk minyak kelapa sawit Malaysia dilaporkan turun 2,6% secara bulanan (month-to-month/MtM) ke 1,04 juta ton pada periode 1-25 November, berdasarkan survei kargo yang dilakukan Intertek Testing Services.

Penyebab permintaan impor yang lesu adalah stok minyak kedelai di India (importir CPO terbesar dunia) yang sedang tinggi-tingginya, sehingga mengurangi permintaan CPO yang merupakan barang substitusi kedelai. Sedangkan, permintaan dari Eropa dan China juga berkurang karena berlangsungnya musim dingin. Sebagai catatan, minyak kelapa sawit akan memadat pada cuaca yang dingin.

(TIM RISET CNBC INDONESIA)  
(RHG/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading