Turun 3 Hari Beruntun, Harga Batu Bara Terendah dalam 7 Bulan

Market - Raditya Hanung, CNBC Indonesia
27 November 2018 12:06
Turun 3 Hari Beruntun, Harga Batu Bara Terendah dalam 7 Bulan
Jakarta, CNBC IndonesiaHarga batu bara Newcastle kontrak acuan menutup perdagangan hari Senin (26/11/2018) dengan melemah 0,34% ke US$ 101,4/ Metrik Ton (MT).

Dengan pergerakan itu, harga batu bara sudah terkoreksi selama 3 hari berturut-turut, sekaligus kembali terperosok ke level terendahnya nyaris dalam 7 bulan terakhir, atau sejak awal Mei 2018.

Sejumlah sentimen negatif memang masih menjadi pemberat harga komoditas ini. Dari mulai tingkat konsumsi China yang lemah hingga pemangkasan impor China.





Meski sudah memasuki musim dingin, tingkat konsumsi batu bara masih cukup lemah di China. Mengutip China Coal Transport & Distribution, konsumsi batu bara di China bagian tengah dan selatan masih cukup lambat.

Hal ini dipertegas dengan stok batu bara yang memang masih berada di level yang tinggi. Menurut data China Coal Resource, stok batu bara pada 6 pembangkit listrik utama China meningkat dalam 7 pekan secara berturut-turut, ke level tertingginya sejak Januari 2015.

Teranyar, stoknya meningkat 0,51% secara mingguan (week-to-week/WtW) ke level 17,51 juta ton, dalam sepekan hingga tanggal 23 November 2018.

Lemahnya konsumsi di Negeri Tirai Bambu juga nampaknya tidak lepas dari musim dingin yang memang lebih hangat dari biasanya. Sebelumnya, China's National Climate Center memroyeksikan bahwa musim dingin yang saat ini melanda dataran China akan lebih hangat dari biasanya.

Saat musim dingin ternyata tidak seekstrim yang diperkirakan, kebutuhan listrik untuk pemanas ruangan pun akan lemah. Alhasil, konsumsi batu bara di pembangkit listrik pun tidak akan sekencang yang diperkirakan sebelumnya.

Adapun prospek konsumsi ke depan pun diperkirakan masih akan lesu, seiring dengan perlambatan ekonomi. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi dunia pada 2018 dan 2019 tumbuh 3,7%. Melambat dibandingkan proyeksi sebelumnya yaitu 3,9%.

Perang dagang AS vs China masih menjadi faktor penyebab perlambatan ekonomi global. Kala dua kekuatan ekonomi terbesar dunia saling hambat dalam perdagangan, maka rantai pasok global akan terpengaruh. Pertumbuhan ekonomi pun menjadi taruhannya.

"Konflik dagang AS-China masih mengandung risiko downside, seiring kita memroyeksikan AS akan menerapkan bea masuk 25% bagi seluruh impor produk China pada kuartal I-2019," tulis bank AS J.P. Morgan pada laporannya akhir pekan lalu, seperti dikutip dari Reuters.

Faktor negatif terakhir datang dari pemerintah China yang memutuskan untuk membatasi impor batu bara di sepanjang tahun 2018. Mengutip laporan dari Shanghai Securities News, seperti dilansir dari Reuters, impor batu bara di tahun ini ditetapkan tidak boleh melebihi volume impor pada tahun 2017.

Mengutip Bloomberg News, komisi perencanaan pembangunan China (National Development and Reform Comission/NDRC) telah memerintahkan sejumlah pelabuhan utama untuk menghentikan izin impor batu bara, mengutip sumber yang familiar dengan isu ini.

Hanya pembangkit listrik yang amat membutuhkan batu bara (untuk memastikan pasokan listrik di musim dingin), yang dapat mengajukan keringanan ke NDRC.   

Kebijakan ini dilakukan pemerintah China dalam rangka menjaga harga batu bara domestik tetap tinggi hingga akhir tahun ini. Selain itu, kondisi stok yang berlebih di China juga menjadi alasan pemerintah untuk membatasi impor batu bara.

Dengan pembatasan itu, volume impor batu bara China di November-Desember 2018 diramal turun sebesar 25-35 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya, mengutip Reuters. Harga batu bara pun akhirnya tak bisa lepas dari koreksi.

Sebagai catatan, China adalah konsumen utama batu bara dunia, mencapai 1.892,6 MT pada 2017 atau 51% dari total permintaan dunia. Satu negara menguasai lebih dari separuh permintaan global. Penurunan permintaan impor China akan sangat memengaruhi pergerakan harga batu bara dunia.

(TIM RISET CNBC INDONESIA)



(RHG/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading