Jelang Penerapan Sanksi AS, Minyak Iran Masih Banjiri Pasar

Market - Wangi Sinintya Mangkuto, CNBC Indonesia
31 October 2018 14:01
Jelang Penerapan Sanksi AS, Minyak Iran Masih Banjiri Pasar
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah memotong ekspor minyak Iran lebih cepat daripada yang diperkirakan banyak orang. Tetapi hanya beberapa hari sebelum tenggat waktu Gedung Putih, Negeri Paman Sam masih jauh dari mencapai tujuan yang dinyatakannya, yaitu untuk meniadakan penjualan minyak Iran.

Ekspor minyak Iran turun sekitar sepertiga dalam lima bulan hingga September. Ekspor ini jatuh sekitar 800.000 barel per hari sejak Trump mengumumkan di bulan Mei bahwa ia keluar dari kesepakatan nuklir dengan Iran dan menetapkan kembali sanksi ekonominya.



Namun, Iran menjual sekitar 1,7 juta hingga 1,9 juta barel per hari (bpd) minyak mentah dan kondensat, sebuah bentuk minyak super ringan, pada bulan September, menurut perkiraan oleh bank investasi, perusahaan penarik tanker dan Badan Energi Internasional, dilansir dari CNBC International.


Nilai itu turun dari puncaknya 2,7 juta bpd di 2018 pada bulan Juni, menurut ClipperData. Dalam enam bulan pertama tahun ini, Iran rata-rata mengirim 2,4 juta bpd dalam pengiriman, perkiraan S&P Global Platts Analytics.

Beberapa pelanggan terbesar Iran, termasuk Cina dan India, diperkirakan akan terus membeli minyaknya. Pemerintahan Trump juga mengindikasikan akan memungkinkan beberapa negara untuk terus mengimpor minyak Iran dalam jumlah terbatas, tetapi para pejabat belum mengungkapkan negara mana yang akan menerima keringanan.

Jelang Penerapan Sanksi AS, Minyak Iran Masih Banjiri PasarFoto: infografis/5 wilayah Indonesia Berpotensi untuk lapangan Minyak besar/Aristya Rahadian krisabella
Bersama dengan China dan India, negara-negara seperti Turki, Italia, Spanyol, Yunani dan Jepang terus membeli minyak mentah Iran. Tetapi para analis secara luas memperkirakan kerugian itu akan menggelembung hingga antara 1 juta hingga 1,5 juta bpd pada akhir tahun.

Trump memulihkan sanksi yang dibuat oleh pemerintahan Obama untuk mengisolasi Iran dari pasar global atas dugaan pengembangan senjata nuklir. Sanksi-sanksi itu, yang didukung oleh Uni Eropa dan Perserikatan Bangsa-Bangsa, memaksa Iran ke meja perundingan, di mana mereka setuju untuk membatasi program nuklirnya dengan imbalan keringanan sanksi.



Trump memberi negara-negara waktu enam bulan untuk mengurangi pembelian minyak mentah Iran. Pejabat Departemen Luar Negeri kemudian mengatakan kepada negara-negara asing bahwa mereka mengharapkan pembeli minyak untuk mengurangi pembelian mereka hingga nol pada 4 November, mengejutkan pasar dan membuat harga minyak naik lebih tinggi. (prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading