Harga Minyak Dunia Bisa Tembus US$ 150/Barel, Serius Nih?

Market - Anastasia Arvirianty, CNBC Indonesia
22 July 2019 08:13
Harga Minyak Dunia Bisa Tembus US$ 150/Barel, Serius Nih?
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia diprediksi dapat melonjak drastis. Tak tanggung-tanggung, bisa mencapai US$ 150 per barel. Hal tersebut disampaikan oleh analis di Capital Economics, seperti dilansir dari CNBC International, Minggu (21/7/2019).

Analis tersebut menjelaskan, hal itu bisa terjadi jika perang meletus antara AS dan Iran di Teluk Persia. Pasalnya, ketegangan AS dan Iran kian memanas. Dalam perkembangan terbaru, pemerintah Iran menangkap sebuah kapal tanker asal Inggris di Selat Hormuz atas dugaan pelanggaran wilayah laut.

Ini menambah rentetan peristiwa Negeri Paman Sam dan Negeri Persia. Sentimen ini memicu kenaikan harga minyak dunia pada perdagangan Jumat (18/7/2019) ke level US$ 55,63 per barel, menguat 0,60%. Adapun harga minyak mentah Brent naik 0,87% ke level US$ 62,47 per barel.

"Konflik tersebut dapat mendorong penutupan Selat Hormuz," ujar analis tersebut, melansir CNBC International, Minggu (21/7/2019).




Apabila itu terjadi maka dapat mengancam distribusi pasokan minyak global. Selat tersebut merupakan jalur pengiriman untuk seperlima konsumsi minyak dunia. Kala konflik semakin memanas, aliran pasokan bisa terhambat.

Apalagi sebelumnya, AS pada Kamis (18/7/2019) waktu setempat mengabarkan Angkatan Laut AS (US Navy) telah menghancurkan pesawat nirawak (drone) milik Iran di perairan Selat Hormuz. Menurut AS, aksi itu dilakukan karena drone Iran telah mengancam kapal perang US Navy.

Akan tetapi pihak Iran menampik kabar tersebut. "Kami tidak menerima informasi perihal kehilangan drone hari ini," ujar Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif.



Washington bersikukuh telah menembak jatuh sebuah drone milik Iran. "Kami sudah mengkaji, itu adalah drone Iran," kata juru bicara Pentagon, Rebecca Rebarich.

Namun demikian, para analis menyatakan kemungkinan terjadinya perang di Teluk Persia masih jauh panggang dari api. Apalagi Presiden AS Donald Trump dalam kampanyenya menyerukan mengakhiri perang di Timur Tengah.


"Untuk AS, saya pikir itu semua tergantung pada pertimbangan politik domestik Trump," ujar ahli energi di Universitas Columbia Richard Nephew.

[Gambas:Video CNBC] (miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading