Harga Batu Bara Merosot 1,7% Sepanjang Pekan Lalu

Market - Raditya Hanung, CNBC Indonesia
24 September 2018 10:56
Dua Sentimen Ini Redam Kejatuhan Harga Batu Bara

Dua Sentimen Ini Redam Kejatuhan Harga Batu Bara

Meski demikian, sejatinya konsumsi batu bara China (dan beberapa negara konsumen lainnya) masih berpotensi kembali membaik. Pasalnya, musim dingin yang akan datang diperkirakan akan lebih dingin dari biasanya. Akibatnya, konsumsi batu bara sebagai bahan bakar mesin penghangat diperkirakan akan ikut melonjak.

Hal ini lantas menjadi indikasi bahwa konsumsi batu bara masih akan solid setidaknya hingga akhir tahun. Persepsi ini mampu menahan kejatuhan harga batu bara lebih dalam.

Selain itu, produsen dan kontraktor batu bara utama di Indonesia dikabarkan kesulitan dalam mengkaji tambahan peralatan tambang, menurut analis Wood Mackenzie Shirley Zang. “Kenaikan untuk ekspor batu bara Indonesia dari levelnya sekarang cukup terbatas,” ujarnya, seperti dilansir dari Bloomberg News.


Hal serupa juga disampaikan oleh kepala Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI-ICMA) Pandu Sjahrir, bahwa produsen RI kini menghadapi backlog pemesanan 18 bulan, seiring mereka belum bisa mendapatkan peralatan tambang tambahan.

“Terbatasnya pasokan masih tetap nyata. Pesanan saat ini baru akan dipenuhi hingga akhir 2019,” ucap Sjahrir, dikutip dari Bloomberg News.

Seperti diketahui, pemerintah Indonesia telah menyetujui penambahan kuota eskpor batu bara hingga 100 juta ton, sampai akhir tahun ini. Meski demikian, terhambatnya pasokan nampaknya belum akan mampu melambungkan ekspor batu bara RI seperti yang diharapkan.

Pada CNBC Indonesia, Pandu Sjahrir pernah mengatakan bahwa porsi penjualan Indonesia di pasar internasional hampir meraup pangsa pasar sebesar 20%, atau setara dengan 85 juta ton. Oleh karena itu, sentimen terhambatnya pasokan dari RI akhirnya memberikan sentimen bagi kenaikan harga.

Tidak hanya dari Indonesia, sinyal semakin seretnya pasokan juga datang dari penambang Australia New Hope Corp., seperti dilaporkan oleh Bloomberg News. Penyebabnya adalah sedang terjadi bottlenecking di tambang batu bara perusahaan tersebut.

Sebagai informasi, produksi batu bara New Hope Corp. meningkat 4% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada tahun fiskal 2017-2018 (Agustus-Juli) ke angka 8,94 juta ton MT. Nyaris seluruh hasil produksi tersebut diekspor ke Asia-Pasifik. Berkurangnya pasokan dari Negeri Kanguru ini lantas memberi energi tambahan bagi harga batu bara sepekan lalu.  (TIM RISET CNBC INDONESIA)
(RHG/gus)
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading