Newsletter

Perang Dagang vs Inflasi, Siapa Menang?

Market - Raditya Hanung & Hidayat Setiaji & Anthony Kevin, CNBC Indonesia
03 September 2018 05:38
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia bergerak variatif pada perdagangan pekan lalu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi salah satu yang baik di Asia, sementara rupiah malah menjadi salah satu mata uang dengan depresiasi terdalam di Benua Kuning. 

Sepanjang pekan lalu, IHSG mencatat penguatan mingguan sebesar 0,83%. Pergerakan IHSG senada dengan bursa saham utama Asia lainnya yang juga mampu membukukan cuan.

Dalam perdagangan pekan lalu, indeks Straits Time menguat tipis 0,01%, Nikkei 225 surplus 0,69%, Hang Seng bertambah 0,78%, dan Kospi melesat 1,29%. Di antara bursa saham utama Asia ini, IHSG boleh menepuk dada karena menjadi terbaik kedua setelah Kospi. 


Sentimen eksternal memang kondusif untuk pasar saham. Pada awal pekan, pasar saham dunia (termasuk Indonesia) melejit karena pidato Jerome Powell, Gubernur The Federal Reserve/The Fed, dalam pertemuan tahunan di Jackson Hole.  

Dalam pidato tersebut, Powell menyatakan The Fed masih akan menaikkan suku bunga acuan secara gradual, sesuatu yang sudah lama dimengerti pelaku pasar. Namun ada beberapa kalimat yang menjadi energi bagi pasar saham. 

"Dengan angka pengangguran yang rendah, mengapa kami mengetatkan kebijakan moneter? Dengan problem inflasi yang belum kelihatan, mengapa kami mengetatkan kebijakan moneter yang bisa menghambat penciptaan lapangan kerja dan ekspansi ekonomi? Kami hanya ingin bergerak hati-hati. Kenaikan suku bunga secara gradual adalah langkah kami untuk mengatasi risiko tersebut (inflasi dan ekspansi ekonomi yang terlalu kencang)," ungkap Powell, mengutip Reuters.  

Pernyataan itu menyiratkan bahwa Amerika Serikat (AS) belum mengalami ancaman inflasi yang serius. Artinya, justru ada kemungkinan The Fed tidak terlalu agresif dalam menaikkan suku bunga acuan. Dengan inflasi yang masih sesuai harapan, maka sepertinya belum ada kebutuhan bagi The Fed untuk lebih agresif dalam pengetatan kebijakan moneter.  

Saham adalah instrumen yang bekerja optimal di lingkungan suku bunga rendah, apalagi saat perang dagang berkecamuk seperti sekarang. Pernyataan Powell ini tentu menjadi energi baru bagi laju pasar saham dunia, tidak terkecuali di Indonesia.  

Sentimen positif berikutnya bagi pasar saham adalah damai dagang AS-Meksiko. Pekan ini, kedua tetangga itu telah mencapai kesepakatan terkait pembaruan Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA).  

Sebelumnya, AS dan Meksiko beberapa kali terlibat friksi dagang. Saling balas pengenaan bea masuk pun terjadi, yang membuat hubungan keduanya memanas.   

Pada Juni, AS mengenakan bea masuk 25% bagi baja dan 10% untuk aluminium dari Meksiko. Langkah itu langsung dibalas Meksiko dengan membebani bea masuk 20-25% untuk produk-produk AS seperti daging babi, keju, dan sebagainya. 

Namun dengan kesepakatan NAFTA itu, hubungan AS-Meksiko bisa dipulihkan. Bahkan ada kemungkinan bea masuk yang sudah diterapkan akan dicabut.  

Aura damai dagang ini membuat investor bergairah dan siap mengambil risiko. Aliran dana pun masuk ke instrumen-instrumen berisiko seperti saham. Terbukti, di sepanjang pekan lalu investor asing membukukan beli bersih Rp 1,02 triliun di pasar saham Indonesia. 

Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 0,6% selama seminggu kemarin. Dalam seminggu terakhir dolar Singapura melemah 0,52%, ringgit Malaysia terkoreksi 0,02%, baht Thailand terdepresiasi 0,46%, won Korea Selatan minus 0,1%, yuan China amblas 0,39%, dan dolar Taiwan tekor 0,03. Rupiah hanya lebih baik dari rupee India yang anjlok 1,49%. 

Ada sentimen yang masih membuat investor memilih dolar AS ketimbang masuk ke Benua Kuning. Sentimen itu adalah perkembangan di Turki dan Argentina.  

Turki kembali menjadi sorotan setelah lembaga pemeringkat Moody's menurunkan peringkat utang 20 lembaga keuangan di Negeri Kebab. Moody's menilai situasi di Turki lebih buruk dari perkiraan semula, terutama akibat depresiasi lira yang sangat tajam.  

Tidak hanya itu, Moody's menganggap iklim bisnis (terutama perbankan) di Turki kian tidak kondusif. Salah satu penyebabnya adalah intervensi Presiden Recep Tayyip Erdogan yang terlalu dalam terhadap kebijakan moneter. Erdogan selalu menyatakan bahwa dirinya adalah musuh suku bunga tinggi, sehingga menghambat langkah bank sentral untuk melakukan penyesuaian moneter.  

Setelah Turki, giliran Argentina yang bikin gara-gara. Investor mulai mencemaskan mata uang peso yang melemah 51,9% di hadapan dolar AS sejak awal tahun.  

Pelemahan peso memaksa Bank Sentral Argentina (BCRA) melakukan intervensi besar-besaran, tetapi tetap tidak manjur. Oleh karena itu, Argetina pun berpaling kepada Dana Moneter Internasional (IMF). Argentina memang sudah menyepakati fasilitas pinjaman sebesar US$ 50 miliar dari lembaga multilateral tersebut.  

Kesepakatan utang dengan IMF tentu ada harganya. Argentina harus mengubah rencana ekonomi yang sudah disusun untuk kemudian diganti dengan saran-saran IMF. Salah satu resep IMF yang paling terkenal adalah pengetatan fiskal dengan pemangkasan berbagai subsidi, yang memicu kemarahan rakyat Negeri Tango.  

Perkembangan di Turki dan Argentina tersebut membuat investor memilih bermain aman. Saat investor ogah mengambil risiko, ke mana mereka mengarahkan dananya? Dolar AS. Ini yang membuat mata uang Asia tertekan dan greenback meneruskan lajunya.

Seperti Asia, Wall Street Melesat Sepanjang Pekan Lalu
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4 5
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading