Internasional

Laba Lampaui Estimasi, Saham Harley-Davidson Melesat

Market - Ester Christine Natalia, CNBC Indonesia
25 July 2018 14:44
Laba Lampaui Estimasi, Saham Harley-Davidson Melesat
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga saham Harley-Davidson naik pada hari Selasa (24/7/2018) setelah produsen sepeda motor gede (moge) itu memproyeksikan marjin laba yang lebih rendah dibanding prediksi dari tarif dagang Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan pendapatan kuartalan yang melampaui estimasi Wall Street.

Proyeksi dan hasil tersebut meningkatkan harapan bahwa laba tahun 2018 akan lebih baik ketimbang prediksi meskipun terdapat berbagai hambatan seperti naiknya biaya bahan mentah dan tarif pengiriman moge ke Eropa, serta basis konsumen yang menua.

Harga saham Harley dibuka naik lebih dari 9% di hari Selasa, pulih dari sebagian besar kerugian yang dialami sejak akhir bulan Juni. Saat itu, Trump mencibir perusahaan karena berencana memindahkan produksinya ke luar negeri untuk konsumen Eropa. Harga saham perusahaan ditutup naik hampir 8% di posisi US$44,63 per saham (Rp 646.965).


Perusahaan yang berbasis di Winconsin kini memprediksi marjin operasional segmen sepeda motor terhadap pendapatan menjadi sekitar 9% sampai 10% di tahun 2018, turun dari proyeksi sebelumnya yaitu 9,5% sampai 10,5%.

Penurunan itu disebabkan oleh ongkos baja dan aluminium yang lebih mahal, serta bea impor balasan sebesar 25% yang dikenakan Uni Eropa (UE) terhadap pengiriman dari AS. Gabungan kedua faktor itu diperhitungkan akan menambah ongkos $45 juta sampai $55 juta ke Harley tahun ini.

Perusahaan diprediksi akan menyerap setengah dari kenaikan ongkos lewat manajemen bisnis yang disiplin.

"Kami melakukan setiap upaya untuk mengurangi ongkos tarif-tarif tersebut," kata John Olin selaku Direktur Keuangan perusahaan kepada para analis lewat conference call, dilansir dari Reuters.

David Beckel yang merupakan analis di Bernstein memperhitungkan penurunan 50 basis poin dalam marjin operasional akan diterjemahkan menjadi ongkos tambahan sekitar $25 juta, di bawah estimasi Harley sebelumnya yang mencapai $65 juta akibat mahalnya ongkos bahan mentah dan tarif Eropa.

Hal ini kemungkinan menyebabkan revisi kenaikan terhadap pendapatan perusahaan tahun 2018, kata Beckel.

Pendapatan bersih kuartal kedua Harley anjlok sampai $248,3 juta atau $1,45 per lembar saham di kuartal kedua yang berakhir tanggal 1 Juli, turun dari $258,9 juta atau $1,48 per lembar saham dari tahun sebelumnya. Meskipun begitu, pendapatannya melampaui estimasi para analis yakni $1,34 per lembar saham, menurut Thomson Reuters I/B/E/S.

Perusahaan menahan proyeksi pengiriman 2018 dan berkata pada hari Senin (30/7/2018) pihaknya akan mengungkap rencana-rencana tentang strategi pelatihan pengendara baru, menghidupkan kembali penjualan AS dan menumbuhkan bisnis internasionalnya.

Batasan kebijakan dagang Trump telah meningkatkan ongkos bahan baku Harley dan menjadikannya target dalam perang dagang dengan UE. Bulan lalu, Harvey mengungkap sebuah rencana untuk mengalihkan produksi bagi konsumen Eropa ke luar negeri guna menghindari tarif balasan UE. Rencana itu memantik kemarahan Trump.

Pada hari Selasa, Direktur Eksekutif Harley Matt Levatich membela rencana perusahaan dengan menyebutnya sebagai "keputusan terbaik, mempertimbangkan situasi yang ada".

Tarif dagang telah memperparah masalah perusahaan yang sudah bergulat dengan menuanya basis konsumen, lesunya permintaan dari pembeli muda dan tawaran diskon dari para pesaing.

Eropa adalah pasar terbesar kedua Harley setelah AS. Sementara penjualan ritel AS anjlok 6,4% pada kuartal terakhir dari setahun lalu, penjualan di Eropa justru naik sekitar 4,3% secara tahunan (year-on-year/yoy) dan menyumbang setengah dari pendapatan internasional.

Perusahaan tidak mengatakan di mana mereka akan mengalihkan produksi untuk pasar Eropa. Harley sendiri memiliki fasilitas perakitan di India dan Brazil, juga diprediksi akan meluncurkan sebuah pabrik perakitan di Thailand pada bulan September.


(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading