Newsletter

Bintang Hari Ini: Donald Trump

Market - Hidayat Setiaji & Anthony Kevin & Raditya Hanung, CNBC Indonesia
23 July 2018 05:44
Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah pekan sebelumnya melesat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi sepanjang pekan lalu. Sentimen eksternal dan domestik menjadi pemberat IHSG. 

Selama sepekan kemarin, IHSG jatuh 1,2%. Investor asing membukukan jual bersih sebesar Rp 800 miliar, karena pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang mencapai 0,7% selama sepekan. Depresiasi rupiah menjadi yang terdalam di antara mata uang Asia. 

Seperti rupiah, nasib IHSG pun serupa yaitu mencatatkan penurunan terdalam di antara bursa utama Benua Kuning. Sepanjang pekan lalu, indeks Nikkei 225 melonjak 3,71%, Shanghai Composite naik 0,54%, dan Straits Times melesat 2,01%. Sementara Hang Seng melemah 1,1% dan Kospi turun 0,56%. 


Penyebab utama pelemahan rupiah yang menyeret IHSG ke zona merah adalah pidato Jerome Powell, Gubernur The Federal Reserve/The Fed, di hadapan Senat dan Kongres AS. Powell menyatakan bahwa perekonomian AS semakin membaik sehingga kenaikan suku bunga secara gradual adalah kebijakan yang paling tepat untuk saat ini. 

Pernyataan Powell memberi energi bagi dolar AS yang kemudian menguat secara global. Berbagai mata uang menjadi korban keganasan greenback, termasuk rupiah.  

Selain tekanan dari testimoni Powell yang hawkish, pemberat rupiah juga datang dari Bank Indonesia (BI) yang memutuskan untuk menahan suku bunga acuan 7 day reverse repo rate sebesar 5,25%. Keputusan ini selaras dengan konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia. 

Tidak adanya kejutan dari BI membuat investor menjalankan prinsip buy the rumours, sell the news. Ketika sebuah peristiwa masih dalam wacana, maka lakukanlah akumulasi beli. Namun ketika sudah terjadi dan sesuai dengan ekspektasi, maka mulailah menjual. 

Sentimen perang dagang juga masih berlanjut dan sedikit banyak ikut memberi tekanan kepada IHSG. Lawrence 'Larry' Kudlow, Penasihat Ekonomi Gedung Putih, yang menyatakan bahwa Presiden China Xi Jinping telah menghambat kemajuan negosiasi perdagangan antara AS-China.

Padahal, bawahan Xi, termasuk penasihat ekonomi senior Liu He, sudah sepakat dengan AS. Xi diklaim telah menolak untuk melakukan perubahan terhadap kebijakan transfer teknologi China, dan kebijakan perdagangan lainnya.
 

Ketika ditanya mengenai komentar Kudlow tersebut, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying berkata, "Pejabat AS terkait secara tidak terduga mendistorsi fakta dan membuat tuduhan bohong yang mengejutkan dan tidak terbayangkan. Inkonsistensi dan pelanggaran janji AS sudah diketahui secara global," tegasnya, dilansir dari Reuters. 

Saling tuduh antara dua raksasa ekonomi terbesar di dunia itu lantas mengindikasikan bahwa perang dagang masih jauh dari kata usai. Eskalasi tensi perang dagang ini lantas membebani perdagangan di bursa regional pada pekan lalu. 

Perang Dagang Trump Bebani Wall Street
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4 5
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading