Dari Wall Street, tiga indeks utama masih terjebak di zona merah. Dow Jones Industrial Average (DJIA) anjlok 1,15%, S&P 500 melemah 0,4% sementara Nasdaq berkurang 0,28%.
Investor masih mencemaskan isu perang dagang AS vs China. Bahkan sepertinya sikap pemerintahan Presiden Trump kian membatu sehingga pintu negosiasi menjadi agak seret.
"Kenyataannya adalah bicara itu tidak berguna. China mungkin sudah meremehkan posisi Presiden yang kuat," tegas Peter Navarro, Penasihat Perdagangan Gedung Putih, seperti dikutip Reuters.
"Jika mereka berpikir bisa membeli dan boleh mengambil hak kekayaan intelektual kami, maka mereka salah perhitungan," tambah Navarro.
Awalnya, investor menilai sikap keras Trump adalah bagian dari upaya negosiasi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Seperti anak kecil yang
ngambek untuk memperoleh keinginannya.
Namun semakin lama, sikap keras ini kian konsisten sehingga sebagian pelaku pasar menilai ini sudah bukan
ngambek lagi. Namun memang sudah menjadi garis kebijakan pemerintah.
Sentimen perang dagang menyeret sejumlah saham yang dinilai rentan. Seperti Boeing, yang amblas 3,83%, karena produknya banyak diekspor ke China. Begitu juga dengan Caterpillar, yang sahamnya anjlok 3,62%.
Untuk perdagangan hari ini, investor sudah harus memompa adrenalin pada hari pertama perdagangan libur panjang. Koreksi di Wall Street sedikit banyak akan mempengaruhi dinamika pasar saham Asia, termasuk Indonesia. Virus koreksi menjadi hal paling awal yang mesti dicermati.
Lalu ada dinamika perang dagang. Kemarin, sentimen ini sudah terbukti menciptakan 'lautan merah' di bursa saham Asia. Saat isu perang dagang masih mengemuka, bahkan semakin parah, maka peluang koreksi lanjutan di bursa saham Asia masih terbuka. Kini pasar Indonesia sudah tidak libur, jadi tidak bisa lagi santai-santai.
Harga minyak juga masih melanjutkan penurunan. Selain akibat perang dagang yang diperkirakan bisa menghambat permintaan energi global, koreksi harga si emas hitam juga disebabkan oleh wacana Organisasi Negara-negara Eksportir Minyak (OPEC) yang akan mengurangi kadar pemotongan produksi. Hal ini akan menjadi salah satu topik pembahasan dalam pertemuan OPEC di Wina (Austria), akhir pekan ini.
Rusia berencana mengajukan proposal untuk kenaikan produksi. Sebab, Negeri Beruang Merah melihat pasar kini sudah stabil. OPEC dan sejumlah negara produsen minyak mulai mengurangi produksi pada awal 2017. Hal ini dilakukan untuk mengatrol harga minyak yang sempat jatuh ke level US$ 30/barel. Kini harga minyak sudah jauh di atas itu dan Rusia menilai mungkin pemotongan produksi perlu ditinjau kembali.
"Pasar sudah berkembang, permintaan minyak juga tumbuh. Kita mungkin sudah melihat keseimbangan di pasar," tutur Alexander Novak, Menteri Energi Rusia, dikutip dari Reuters.
Penurunan harga minyak bukan sentimen positif bagi pasar Indonesia. Sebab, emiten migas dan pertambangan akan kurang mendapat apresiasi kala harga minyak turun. Ini bisa menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara keseluruhan ke teritori negatif.
Kemudian, investor juga harus mewaspadai nilai tukar dolar AS yang masih menguat. Pada pukul 04:10 WIB, Dollar Index (yang mengukur posisi dolar AS di hadapan enam mata uang utama) naik 0,22%.
Apresiasi
greenback didorong oleh kekecewaan pasar terhadap ECB. Dalam forum ekonomi di Sintra (Portugal), Presiden ECB Mario Draghi mengatakan pihaknya masih akan sabar menanti sebelum menaikkan suku bunga acuan. Saat ini suku bunga
refinancing masih bertahan di 0%, sementara
lending facility dan
deposit facility masing-masing 0,25% dan 0,4%.
"Kami akan tetap sabar untuk menentukan waktu kapan menaikkan suku bunga. Kemudian, penyesuaian kebijakan moneter setelah itu juga akan dilakukan secara gradual," kata Draghi dalam forum ECB di Sintra, dikutip dari Reuters.
Merespons pernyataan Draghi, euro pun terkoreksi. Situasi ini dimanfaatkan oleh dolar AS untuk menguat.
Apresiasi dolar AS perlu dicermati karena bisa menekan rupiah. Saat rupiah terdepresiasi, berinvestasi dalam aset berbasis mata uang ini menjadi kurang menarik karena nilainya turun. Depresiasi rupiah bisa memicu aksi jual, terutama oleh investor asing, dan akan berdampak negatif terhadap IHSG.
Sementara dari dalam negeri, ada satu hal yang perlu diperhatikan. Bank Indonesia (BI) kemarin merilis pernyataan untuk menegaskan komitmennya menjaga stabilitas ekonomi.
"Bank Indonesia senantiasa berkomitmen dan fokus pada kebijakan jangka pendek dalam memperkuat stabilitas ekonomi, khususnya stabilitas nilai tukar rupiah. Untuk itu, BI siap menempuh kebijakan lanjutan yang
pre-emptive,
front loading, dan
ahead the curve dalam menghadapi perkembangan baru arah kebijakan the Fed dan ECB pada RDG (Rapat Dewan Gubernur) 27-28 Juni 2018 yang akan datang," sebut pernyataan BI.
Perry Warjiyo, Gubernur BI, mengatakan kebijakan tersebut dapat berupa kenaikan suku bunga acuan, yang disertai dengan relaksasi kebijakan LTV untuk mendorong sektor perumahan. Selain itu, kebijakan intervensi ganda, likuiditas longgar, dan komunikasi yang intensif tetap dilanjutkan.
Jika BI benar-benar menaikkan suku bunga acuan 7 day reverse repo rate, maka akan menjadi kenaikan yang ketiga dalam 1,5 bulan terakhir. Kenaikan pertama adalah pada 17 Mei menjadi 4,5%, dan kedua pada 30 Mei menjadi 4,75%.
Kenaikan suku bunga bisa dinilai positif maupun negatif. Positifnya, BI akan dianggap responsif alias
ahead the curve dalam menyikapi perkembangan global, terutama kebijakan The Fed. Dengan menaikkan suku bunga, BI tidak akan ketinggalan kereta karena The Fed juga sudah menaikkan bunga.
Selain itu, kenaikan suku bunga juga membuat berinvestasi di Indonesia semakin menguntungkan karena memberikan imbalan yang lebih. Ini bisa menjadi pemanis (
sweetener) bagi investor asing untuk masuk ke Indonesia, sehingga pada akhirnya aliran modal ini bisa membuat nilai tukar rupiah lebih stabil.
Namun, kenaikan suku bunga acuan juga bisa membawa dampak negatif. Kenaikan suku bunga acuan berarti sikap (
stance) kebijakan moneter BI mengarah ke bias ketat. Padahal, sepertinya perekonomian Indonesia belum butuh pengetatan.
Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2018 bisa dibilang mengecewakan, karena hanya 5,06%. Untuk mencapai target 5,4% dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 sepertinya hampir mustahil. Jika suku bunga naik, maka mencapai target ini dipastikan mustahil.
Pertumbuhan kredit juga masih belum impresif, masih di kisaran satu digit. BI mencatat pertumbuhan kredit pada Maret 2018 masih di 8,5%. Bila suku bunga acuan naik, maka suku bunga deposito dan kredit juga berpotensi naik sehingga menurunkan minat masyarakat dan dunia usaha untuk meminjam ke bank. Pertumbuhan kredit akan semakin tertekan.
Laju inflasi juga masih terkendali. Hingga Mei 2018, inflasi masih 3,23% secara
year-on-year (YoY). Berada di batas tengah kisaran target BI yaitu 2,5-4,5%. Bahkan pada periode Ramadan-Idul Fitri pun sepertinya tidak ada lonjakan harga yang luar biasa.
Oleh karena itu, pengetatan kebijakan moneter justru akan mengerem gerak pertumbuhan ekonomi Indonesia. Padahal, Indonesia masih membutuhkan pertumbuhan ekonomi.
Jadi setelah bermaaf-maafan, mau ke mana IHSG?
Berikut perkembangan sejumlah bursa saham utama:
| Indeks | Close | % Change | % YTD |
| IHSG | 5,993.63 | (1.85) | (5.70) |
| DJIA | 24,700.21 | (1.15) | (0.08) |
| CSI300 | 3,620.05 | (3.55) | (10.19) |
| Hang Seng | 29,468.15 | (2.80) | (1.51) |
| Nikkei 225 | 22,278.48 | (1.77) | (2.14) |
| Straits Times | 3,301.35 | (0.68) | (2.98) |
Berikut perkembangan nilai tukar sejumlah mata uang: | Mata Uang | Close | % Change | % YoY |
| USD/IDR | 13,925 | 0.00 | 4.82 |
| EUR/USD | 1.16 | (0.31) | 4.06 |
| GBP/USD | 1.32 | (0.53) | 4.28 |
| USD/CHF | 0.99 | (0.11) | 1.94 |
| USD/CAD | 1.33 | 0.66 | 0.17 |
| USD/JPY | 110.03 | (0.46) | (1.34) |
| AUD/USD | 0.73 | (0.55) | (2.64) |
Berikut perkembangan harga sejumlah komoditas: | Komoditas | Close | % Change | % YoY |
| Minyak Light Sweet (US$/barel) | 65.17 | (1.05) | 50.69 |
| Minyak Brent (US$/barel) | 75.07 | (0.37) | 63.08 |
| Emas (US$/troy ons) | 1,275.59 | (0.20) | 2.61 |
| CPO (MYR/ton) | 2,264.00 | (1.95) | (13.02) |
| Batu bara (US$/ton) | 109/53 | (0.99) | 37.03 |
| Tembaga (US$/pound) | 3.04 | (2.00) | 19.06 |
| Nikel (US$/ton) | 14,891.50 | (1.43) | 69.83 |
| Timah (US$/ton) | 20,505.00 | (1.42) | 5.13 |
| Karet (JPY/kg) | 156.30 | (2.68) | (20.66) |
| Kakao (US$/ton) | 2,433.00 | (3.03) | 31.42 |
Berikut perkembangan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara: | Tenor | Yield (%) |
| 5Y | 6.99 |
| 10Y | 7.28 |
| 15Y | 7.68 |
| 20Y | 7.65 |
| 30Y | 7.89 |
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional: | Indikator | Tingkat |
| Pertumbuhan ekonomi (Q I-2018 YoY) | 5.06% |
| Inflasi (Mei 2018 YoY) | 3.23 |
| Defisit anggaran (APBN 2018) | -2.19% PDB |
| Transaksi berjalan (Q I-2018) | -2.15% PDB |
| Neraca pembayaran (Q I-2018) | -US$ 3.85 miliar |
| Cadangan devisa (Mei 2018) | US$ 122.9 |
TIM RISET CNBC INDONESIA