Utang Menumpuk, Pemilik Sevel Konversi Utang Jadi Saham

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
22 May 2018 13:50
Utang Menumpuk, Pemilik Sevel Konversi Utang Jadi Saham
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Modern Internasional Tbk (MDRN) akan menerbitkan saham baru untuk mengkonversi utang menjadi kepemilikan saham. Saham baru yang akan diterbitkan sebanyak 457,46 miliar saham atau setara dengan 10% dari total modal yang ditempatkan dan disetor perusahaan.

Berdasarkan prospektus yang dirilis perusahaan, penerbitan saham baru ini dilakukan perusahaan untuk mengkonversi utangnya senilai Rp 119,37 miliar yang akan jatuh tempo pada 23 Juni mendatang.

Utang yang akan direstrukturisasi merupakan pinjaman dari perusahaan afiliasi perusahaan yakni PT Bukit Hendama permai (BHP) yang masih merupakan milik direktur utama perusahaan Sungkono Honoris.


Langkah ini menjadi salah satu cara perusahaan dalam merestrukturisasi utang-utangnya, setelah sebelumnya perusahan juga berencana untuk menjual aset-asetnya berupa properti seperti ruko dan tanah.

Sementara itu, berdasarkan laporan keuangan perusahaan hingga akhir 2017 lalu total liabilitasnya mencapai Rp 1,28 triliun turun 3,96% dari setahun sebelumnya Rp 1,34 triliun. Liabilitas tersebut bukan hanya melampaui total aset perseroan, tetapi juga didominasi liabilitas jangka pendek Rp 1,26 triliun.


Bank yang menjadi kreditur utang jangka pendek bagi Modern adalah Standard Chartered Bank dengan nilai Rp 203,22 miliar, PT Bank Permata Tbk Rp 21,28 miliar dan PT Bank Mandiri Tbk Rp 16,88 miliar.

Sementara utang jangka panjang didominasi oleh Bank Mandiri dengan nilai Rp 148,02 miliar, dilanjutkan CIMB Niaga Rp 43,85 miliar, Standard Chartered Bank Rp42,9 miliar dan Bank Permata Rp 4 miliar.

Kinerja keuangan perusahaan memburuk sejak perusahaan melakukan ekspansi besar-besaran untuk anak usahanya PT Modern Sevel Indonesia. Namun sayang, langkah ekspansi ini berbanding terbalik dengan hasil yang diperoleh perusahaan.

Tahun lalu perusahaan terpaksa mengembalikan lisensi Seven Eleven yang sudah dimilikinya selama delapan tahun karena berakhir bangkrut.

Paska tutupnya Seven Eleven, perusahaan bahkan berencana kembali untuk membuka bisnis baru di lini agribisnis. Namun langkah ini batal dengan alasan dapat menambah beban perusahaan.

Dengan demikian, perusahaan kembali menjalankan bisnis lama yang dulu sempat ditinggalkannya yakni distributor mesin fotocopy Ricoh melalui anak usahanya PT Modern Data Solusi. (hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading