IHSG Terus Terseret Arus Saat Rupiah Kehilangan Tumpuan

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
21 May 2018 06:48
IHSG Terus Terseret Arus Saat Rupiah Kehilangan Tumpuan
Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan terhadap bursa saham domestik tampaknya masih belum usai. Sentimen utama yang masih memengaruhi investor berinvestasi di saham-saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah depresiasi nilai tukar rupiah.

Pekan lalu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sudah berada pada level di atas Rp 14.107/dolar AS. Rupiah terus melemah dibandingkan penutupan pekan sebelumnya yang tercatat pada level Rp 14.048/dolar AS.


Langkah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan BI 7 Day RR tidak banyak membantu. Sebagian pelaku pasar menilai otoritas moneter seperti kehilangan momentum saat menetapkan suku bunga acuan.


Pangkal persoalan yang membuat pasar saham domestik tertekan adalah kekhawatiran bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan (Fed Funds Rate) sebanyak empat kali tahun ini, untuk meredam inflasi sebagai dampak dari pemulihan ekonomi AS.

Meskipun inflasi terakhir yang diumumkan tidak menunjukkan kenaikan signifikan, hal itu tampaknya tidak memengaruhi persepsi investor. Kenyataannya, indeks dolar AS masih terus menguat terhadap enam mata uang utama dunia.

Selain itu, yield obligasi AS tenor 10 tahun terus naik hingga di atas 3%. Kenaikan imbal hasil obligasi AS tersebut membuat arus modal deras mengalir ke Negeri Paman Sam.

Hal tersebut tampak dari penarikan dana investor asing yang hampir tiap hari terjadi di bursa saham domestik hingga pekan lalu.

Secara mingguan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan lalu terkoreksi 2,91% menjadi 5.783,31 poin dari 5.956,83 poin pada pekan sebelumnya. Saham-saham dari sektor aneka industri tertekan dalam, di mana indeks ini secara mingguan anjlok 6,11%.

Lalu saham-saham dari sektor keuangan mengalami hal yang sama. Indeks sektor keuangan turun 4,95% dan indeks sektor barang konsumsi merosot 4,56%.


Ada dua sektor yang mengalami penguatan pekan lalu, yaitu sektor pertambangan yang naik 5,14% dan sektor agrikultur yang menguat 0,71%. Selengkapnya kinerja indeks-indeks di BEI terlampir di tabel berikut.
Butuh Tumpuan untuk Tahan IHSG yang Sedang Terseret ArusFoto: CNBC Indonesia/IDX
Koreksi IHSG pekan lalu telah membuat nilai kapitalisasi pasar BEI kehilangan Rp 178,4 triliun menjadi Rp 6.466,18 triliun dari Rp 6.644,58 triliun pada pekan sebelumnya. Investor asing tercatat masih terus mencatatkan jual bersih selama sepekan terakhir dengan nilai Rp 3,41 triliun sehingga sepanjang tahun ini nilai jual bersih investor asing sudah mencapai Rp 41,02 triliun.

Nilai rerata transaksi harian tercatat naik 29,55% menjadi Rp 8,82 triliun dari Rp 6,81 triliun pekan sebelumnya. Rerata volume transaksi harian juga meningkat 18,32% menjadi 9,01 miliar unit saham dari 7,61 miliar unit saham sepekan sebelumnya dan rerata frekuensi transaksi harian perdagangan saham pada pekan ini juga tumbuh 21,35% menjadi 397,24 ribu kali transaksi dari 327,35 ribu kali transaksi sepekan sebelumnya.

Saham-saham yang ditransaksi paling besar nilainya pekan lalu, di antaranya saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) senilai Rp 3,80 triliun, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) senilai Rp 3,06 triliun, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) senilai Rp 2,22 triliun.

Berikut ini saham-saham dengan nilai transaksi tertinggi.
Butuh Tumpuan untuk Tahan IHSG yang Sedang Terseret ArusFoto: CNBC Indonesia/IDX
Sementara itu, saham yang kenaikkan harganya paling tinggi pekan lalu tercatat atas saham PT Royal Prima Tbk (PRIM) sebesar 63%, saham PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) sebesar 55,71%, dan PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) sebanyak 33,68%.

Berikut itu saham-saham dengan kenaikan harga tertinggi.
Butuh Tumpuan untuk Tahan IHSG yang Sedang Terseret ArusFoto: CNBC Indonesia/IDX

(prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading