Fund Manager Asing Mulai Revisi Target, IHSG Cuma Bisa 6.600

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
17 May 2019 09:52
Fund Manager Asing Mulai Revisi Target, IHSG Cuma Bisa 6.600
Jakarta, CNBC Indonesia - Aberdeen Standard Investments Indonesia memangkas proyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi 6.600 dari sebelumnya 6.700 hingga akhir tahun ini. Kondisi pasar yang volatile itu timbul karena ketidakpastian perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

Investment Director Aberdeen Standard Investments Indonesia, Bharat Joshi mengatakan, melemahnya IHSG hingga anjlok ke level psikologis di bawah 6.000 lantaran pelaku pasar asing melakukan aksi jual besar-besaran.

Mengacu data Bursa Efek Indonesia, sepekan terakhir, pelaku pasar asing telah melakukan aksi jual bersih Rp 3,14 triliun di pasar reguler. Sedangkan, dalam sebulan terakhir, aksi jual lebih besar lagi, Rp 8,94 triliun meski aksi beli bersih masih tetap besar Rp 41,42 triliun (seluruh pasar termasuk transaksi Danamon-MUFG-BNP).

"IHSG terkoreksi tajam karena pengaruh sentimen eksternal, situasi ini sama dengan Juni-Agustus 2018 lalu ketika IHSG turun ke level 5.600 karena perang dagang," kata Bharat di Jakarta, Kamis (16/5/2019).


Tak hanya perang dagang, lanjut Bharat, perlambatan ekonomi China menjadi salah satu sentimen negatif yang membuat emiten di sektor pertambangan batu bara mengalami tekanan.

Pasalnya, perlambatan ekonomi di Negeri Tirai Bambu mempengaruhi permintaan batu bara asal Indonesia. Emiten tambang batu bara PT Bukit Asam Tbk (PTBA) misalnya, dalam sepekan terakhir, pelaku pasar asing melakukan aksi jual Rp 46,51 miliar di pasar reguler, sedangkan secara year to date Rp 646,32 miliar.

"Pelaku pasar asing ramai melakukan aksi jual di komoditas batu bara," ujarnya.

Meski memangkas proyeksi IHSG, fund manager yang berbasis di London-Inggris itu, optimistis pada semester kedua pasar akan kembali membaik. Karena itu, saat ini jadi waktu yang tepat bagi investor untuk berinvestasi dan mendiversifikasi portfolionya, tidak hanya bergantung pada satu instrumen saja.

"Sekarang bisa averaging down atau beli sedikit-sedikit, jangan masuk terus. Produk yang direkomendasikan obligasi dan balance fund," kata dia menambahkan.

Ia pun merekomendasikan, emiten bank-bank buku empat bisa menjadi pilihan investasi karena imbal hasilnya cukup tinggi pada tahun lalu. "BBRI, BBCA, BBNI bisa jadi pilihan," katanya.

Sementara itu, Aberdeen memproyeksikan pada tahun ini nilai tukar Rupiah akan diperdagangkan pada kisaran Rp 14.200-Rp14.400 per US$ dengan asumsi Bank Indonesia tetap menahan suku bunga acuan di level 6% sepanjang tahun ini.

Namun bila otoritas moneter Indonesia itu memangkas suku bunga minimal 25 basis poin, Rupiah akan menguat ke level Rp 14.100 per US$.

Geger di Pasar Domestik, IHSG Bisa Menuju 5.500-5.600
[Gambas:Video CNBC] (hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading