Defisit Transaksi Berjalan Kuartal I-2018 Terburuk Sejak 2013

Market - Raditya Hanung Prakoswa, CNBC Indonesia
12 May 2018 13:00
Defisit Transaksi Berjalan Kuartal I-2018 Terburuk Sejak 2013
Jakarta, CNBC IndonesiaNeraca transaksi berjalan pada kuartal I-2018 mencatat defisit sebesar US$5,5 miliar, melebar lebih dari dua kali lipat, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Apabila ditinjau dalam rentang waktu yang lebih panjang, transaksi berjalan di 3 bulan awal tahun ini adalah yang terparah sejak kuartal I-2013.
Defisit Transaksi Berjalan Kuartal I-2018 Terburuk Sejak 2013Foto: CNBC Indonesia
Adanya pelebaran defisit transaksi berjalan pada tiga bulan awal tahun ini utamanya disebabkan oleh anjloknya surplus neraca perdagangan barang mencapai lebih dari 50%, dari semula US$5,63 miliar di kuartal I-2017, menjadi US$2,36 miliar pada kuartal I-2018. Sebagai catatan, ekspor barang Indonesia di kuartal-I 2018 ini tercatat sebesar US$44,41 miliar, sementara impor barang sebesar US$42,05 miliar.

Apabila dibandingkan kuartal I-2017, ekspor barang memang meningkat sebesar 8,95%, namun faktanya impor barang tumbuh jauh lebih cepat, yakni di kisaran 20% pada periode yang sama. Alhasil. surplus perdagangan barang RI pun tergerus.
Defisit Transaksi Berjalan Kuartal I-2018 Terburuk Sejak 2013Foto: CNBC Indonesia
Terbatasnya kinerja ekspor barang Indonesia disumbang oleh ekspor non-migas yang hanya tumbuh 9,4% secara year-on-year (YoY) di kuartal I-2018, padahal pada kuartal I-2017 tumbuh sebesar 21,9% YoY. Hal ini disebabkan oleh melemahnya ekspor sejumlah komoditas non-migas utama Indonesia di 3 bulan awal tahun ini, khususnya di sektor agrikultur. Ekspor minyak nabati Indonesia tercatat terkoreksi 14,5% YoY, sementara ekspor karet olahan amblas 17,6% YoY.

Performa ekspor minyak nabati yang mengecewakan didorong oleh India, salah satu negara pengimpor minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) terbesar di dunia, yang menaikkan tarif impor dari semula 30% menjadi 44%. Sebagai tambahan, Negeri Bollywood juga menaikkan tarif impor produk minyak sawit dari semula 40% menjadi 54%.


Di sisi lain, impor non migas tercatat menguat lebih signifikan sebesar 22,8% YoY di 3 bulan awal tahun ini, padahal di kuartal I-2017 hanya tumbuh 8,1% YoY. Impor untuk keseluruhan kelompok barang kompak menguat, dipimpin oleh pertumbuhan impor barang modal sebesar 26,8% YoY. Sementara itu, impor barang konsumsi dan bahan baku juga ikut menguat masing-masing sebesar 22,3% YoY dan 21,1% YoY.

Melonjaknya impor barang modal dan bahan baku lagi-lagi menjadi indikasi masih lemahnya proses industrialisasi tanah air, di mana barang modal dan bahan baku untuk produksi belum mampu disediakan dari dalam negeri. Alhasil, di setiap ekonomi akan lepas landas, impor pun selalu naik tajam.

Sebagai tambahan, defisit neraca perdagangan jasa dan pendapatan primer pun tercatat melebar di 3 bulan awal tahun ini, dibandingkan kuartal-I 2017. Defisit neraca perdagangan jasa melebar US$196 juta menjadi US$1,42 miliar, sementara defisit pendapatan primer membesar US$178 juta menjadi US$7,89 miliar.


TIM RISET CNBC INDONESIA


(roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading