ULASAN KINERJA BRI
Perkuat Kredit UMKM Sembari Jaga Margin
Arif Gunawan,
CNBC Indonesia
27 February 2018 08:55
Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam dunia perbankan, dana (likuiditas) yang menganggur adalah beban. Sebisa mungkin, berapapun dana masyarakat yang terkumpul harus diputar sebagai kredit kepada nasabah atau debitor, agar menghasilkan keuntungan. Pasalnya, mereka harus selalu membayar beban bunga kepada masyarakat selaku pemilik dana (tabungan dan deposito) tersebut.
Tahun lalu, persoalan likuiditas berlebih ini menjadi persoalan yang disorot otoritas moneter karena Indonesia tengah menghadapi bottleneck pendanaan, yang berujung pada kelebihan likuiditas sebesar Rp 400 triliun. Kondisi tersebut terjadi bahkan ketika Bank Indonesia (BI) menerapkan kebijakan moneter yang cenderung longgar, tetapi "cautiously accommodative".
Suku bunga acuan moneter, yakni BI repo rate (7-day reverse repo rate), sepanjang tahun lalu telah dipangkas dari 4,75% (per Desember 2016) menjadi 4,25% (per Desember 2017). Penurunan BI rate ini secara alami menjadi insentif bagi pelaku industri untuk menarik kredit bank karena ekspektasi bunga yang lebih rendah. Semakin banyak dana perbankan yang dipinjam, makin berkurang pula problem likuiditas berlebih di industri perbankan tersebut.
Hanya saja, kondisi perekonomian yang tahun lalu hanya tumbuh 5,07%--jauh di bawah target pemerintah 5,2%--tidak cukup kuat mendorong para pelaku usaha berekspansi dan menarik lebih banyak pinjaman dari bank. Problem kelebihan likuditas di perbankan itu berlanjut hingga dua bulan pertama tahun ini, sehingga BI mencatatkan tambahan kelebihan likuiditas senilai Rp 20 triliun.
Di tengah kondisi demikian, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk tahun lalu masih mampu mendongkrak kredit ke sektor riil, dan secara bersamaan mempertahankan kinerjanya dengan pertumbuhan laba bersih sebesar 10,7% menjadi Rp 29,04 triliun. Meski tantangan masih menerpa dari berbagai penjuru, mulai dari pertumbuhan ekonomi yang terbatas, perlambatan pertumbuhan konsumsi, hingga tekanan ekonomi global, perseroan sukses mempertahankan posisinya sebagai bank paling menguntungkan di Indonesia.
CNBC Indonesia mengulas kinerja Bank BRI per 2017 dengan mengacu pada capaian yang dilaporkan dalam neraca tahunan yang baru saja dirilisnya. Beberapa indikator penting kesehatan bank kami sorot, untuk mendapat gambaran utuh mengenai rentabilitas (kemampuan mencetak laba) perseroan di tengah kewajibannya menjalankan peran intermediasi dalam perekonomian.
Tahun lalu, persoalan likuiditas berlebih ini menjadi persoalan yang disorot otoritas moneter karena Indonesia tengah menghadapi bottleneck pendanaan, yang berujung pada kelebihan likuiditas sebesar Rp 400 triliun. Kondisi tersebut terjadi bahkan ketika Bank Indonesia (BI) menerapkan kebijakan moneter yang cenderung longgar, tetapi "cautiously accommodative".
Suku bunga acuan moneter, yakni BI repo rate (7-day reverse repo rate), sepanjang tahun lalu telah dipangkas dari 4,75% (per Desember 2016) menjadi 4,25% (per Desember 2017). Penurunan BI rate ini secara alami menjadi insentif bagi pelaku industri untuk menarik kredit bank karena ekspektasi bunga yang lebih rendah. Semakin banyak dana perbankan yang dipinjam, makin berkurang pula problem likuiditas berlebih di industri perbankan tersebut.
Hanya saja, kondisi perekonomian yang tahun lalu hanya tumbuh 5,07%--jauh di bawah target pemerintah 5,2%--tidak cukup kuat mendorong para pelaku usaha berekspansi dan menarik lebih banyak pinjaman dari bank. Problem kelebihan likuditas di perbankan itu berlanjut hingga dua bulan pertama tahun ini, sehingga BI mencatatkan tambahan kelebihan likuiditas senilai Rp 20 triliun.
Di tengah kondisi demikian, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk tahun lalu masih mampu mendongkrak kredit ke sektor riil, dan secara bersamaan mempertahankan kinerjanya dengan pertumbuhan laba bersih sebesar 10,7% menjadi Rp 29,04 triliun. Meski tantangan masih menerpa dari berbagai penjuru, mulai dari pertumbuhan ekonomi yang terbatas, perlambatan pertumbuhan konsumsi, hingga tekanan ekonomi global, perseroan sukses mempertahankan posisinya sebagai bank paling menguntungkan di Indonesia.
CNBC Indonesia mengulas kinerja Bank BRI per 2017 dengan mengacu pada capaian yang dilaporkan dalam neraca tahunan yang baru saja dirilisnya. Beberapa indikator penting kesehatan bank kami sorot, untuk mendapat gambaran utuh mengenai rentabilitas (kemampuan mencetak laba) perseroan di tengah kewajibannya menjalankan peran intermediasi dalam perekonomian.
Sumber: Laporan Keuangan 2017
Sumber: Laporan Keuangan 2017
Sumber: Laporan Keuangan 2017
Sumber: Laporan Keuangan 2017
Sumber: Laporan Keuangan 2017
Sumber: Laporan Keuangan 2017
Sumber: Laporan Keuangan 2017
Sumber: Laporan Keuangan 2017