Pembangunan Infrastruktur Untungkan BUMN Karya

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
29 January 2018 06:51
Pembangunan Infrastruktur Untungkan BUMN Karya
Jakarta, CNBC Indonesia - Pembangunan beberapa proyek infrastruktur di berbagai wilayah Indonesia yang diperkirakan rampung di tahun ini akan memperkuat permodalan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk membiayai proyek lainnya. Hal ini akan berdampak positif terhadap saham-saham perusahaan konstruksi pelat merah.

Analis Bahana Sekuritas Ricky Ho mengatakan komitmen pemerintah untuk terus melanjutkan pembangunan infrastruktur guna meningatkan konektivitas akan menguntung BUMN karya, terutama di masa menjelang pemilihan presiden tahun depan.


Pemerintah telah menggelontorkan dana mencapai Rp 410,7 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 untuk membiayai pengembangan infrastruktur.


"Perusahaan konstruksi milik negara akan mendapat keuntungan dari upaya pemerintah yang semakin menggenjot pembangunan infrastruktur menjelang pemilihan presiden tahun depan. Sehingga, perusahaan konstruksi mampu mencatatkan rekor tertinggi atas perolehan kontrak dan kinerja keuangan pada akhir tahun lalu," kata Ricky dalam siaran persnya, Minggu (28/1/2018).

Menurut Ricky, empat BUMN karya terbesar, PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP) dan PT Adhi Karya Tbk (ADHI), menjadi perusahaan yang paling diuntungkan.

Tahun ini Waskita akan diuntungkan oleh pembayaran proyek Light Rail Transit (LRT) Sumatera Selatan sebesar Rp 10 triliun dan Rp 6,1 triliun dari proyek Jaringan Transmisi Sumatera yang telah selesai dikerjakan. Dari dana ini perusahaan akan memiliki modal kerja untuk menggaet proyek baru.

Selain itu, perusahaan juga berencana untuk melakukan divestasi dua anak usahanya Waskita Toll Road (WTR).

Adapun untuk langkah ini terdapat dua skema yang bisa dijalankan, pertama  menjual seluruh atau satu persatu jalan tol yang dikerjakan secara langsung kepada investor, atau menyatukan jalan tol milik WTR dengan milik Jasa Marga baru kemudian melakukan penawaran perdana saham atau initial public offering (IPO). Kedua, WTR bisa saja langsung melakukan IPO atau rights issue.

"Kemungkinan terbesar jalan yang akan diambil adalah pilihan pertama dan kedua, dengan perkiraan perolehan dana sekitar Rp 4 triliun-Rp 4,9 triliun," papar Ricky.

Ricky menilai langkah divestasi ini kemungkinan besar akan dilakukan oleh perusahaan pada semester pertama tahun ini mengingat perusahaan memiliki ruas tol yang akan selesai tahun ini.



Untuk WIKA, Ricky menilai perusahaan banyak terlibat dalam proyek pembangunan jalur kereta api, yang akan menjadikannya sebagai BUMN konstruksi untuk mengerjakan berbagai proyek kereta ke depannya.

Berdasarkan data proyek nasional, Ricky memperkirakan perusahaan akan mengantongi US$36,3 miliar (Rp 490,05 triliun) proyek jalur kereta untuk seluruh Indonesia. Wijaya Karya juga sudah memiliki tata kelola perusahaan yang kuat dengan neraca keuangan yang sehat.

Adapun PTPP memiliki posisi yang kuat untuk mengerjakan proyek pelabuhan dan pembangkit listrik dengan neraca keuangan yang sehat sehingga diperkirakan margin akan membaik ke depannya.

"Diperkirakan perusahaan bakal mengantongi kontrak sekitar $27 miliar (Rp 364,50 triliun) untuk proyek pelabuhan dan pembangkit listrik, meski ada risiko lambatnya eksekusi proyek karena ada permasalahan PLN," jelas dia.

ADHI pun diperkirakan akan mencatatkan penguatan modal meskipun perusahaan sempat memiliki masalah pendanaan LRT. Masalah tersebut telah menemukan kata sepakat dari PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Setelah pembayaran tahap pertama dilakukan pada pertengahan Januari 2018, PT KAI akan melakukan pembayaran setiap kuartal, sesuai dengan perkembangan proyek.

ADHI juga akan membangun daerah komersial di sekitar stasiun perhentian LRT atau disebut juga Transit-Oriented Development (TOD) di 19 lokasi, sehingga akan berdampak positif bagi kinerja perseroan. (prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading