Harga Saham Tambang dan Saham yang Terkait Naik Kencang

Market - Shuliya Ratanavara, CNBC Indonesia
12 January 2018 16:03
Harga Saham Tambang dan Saham yang Terkait Naik Kencang
  • Perkiraan kita harga batu bara tahun ini relatif akan stabil, sama dengan dengan tahun lalu.
  • Kenaikan harga komoditas memang memberikan dampak pada penjualan alat berat
Jakarta, CNBC Indonesia – Saham sektor pertambangan dan migas,  serta yang berhubungan dengan pertambangan membukukan kenaikan kenaikan harga yang signifikan. Hal ini disebabkan kenaikan harga minyak yang signifikan selama sepekan terakhir dan sempat mencapai US$ 70/barel, dan menjadi pemicu kenaikan harga batu bara serta komoditas tambang lainnya. 

Berikut ini, 10 saham tambang yang menajadi pendorong kinerja IHSG selama sepekan terakhir, yaitu saham ENRG yang naik 49,48%, BRMS menguat 16,44%, DOID naik 15,29%, MEDC naik 15,26%, ADRO menguat 11,56%, DEWA naik 10%, INDY menguat 9,69%, PTBA  naik 8,81%, ELSA menguat 6,57%, TRAM naik 5,41%, dan UNTR naik 4,16% sampai awal perdagangan sesi II ISHG.

Merespons kenaikan harga batu bara, Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Arviyan Arifin mengatakan, proyeksi pendapatan akan naik tetapi besaran kenaikan masih tergantung harga batu bara di pasar dunia. “Perkiraan kita harga batu bara tahun ini relatif akan stabil, sama dengan dengan tahun lalu. Kalau pun naik mungkin tidak banyak,” kata Arviyan kepada CNBC Indonesia, Jumat (12/01/2018).

Selain karena harga batubara, Arviyan juga menyatakan peningkatan kinerja Bukit Asam tahun ini juga disebabkan efisiensi yang dilakukan oleh perseroran. Baik efisiensi dari segi cara atau pun biaya. Dengan begitu, ia menyatakan perseroan menargetkan produksi perseroan tahun 2018 bisa naik 20% dari produksi akhir tahun 2017 sebesar 23 juta ton


Adapun total penjualan perseroan sampai kuartal III 2017 mencapai Rp 13,22 triliun dengan laba bersih sebesar Rp 2,63 triliun. Sementara selama sepekan terakhir harga saham PTBA terus menguat dari 2.610 pada awal pekan menjadi 2.840 memasuki sesi II perdagangan bursa hari ini.

Di sisi lain, Corporate Secretary PT United Tractors Tbk (UNTR) Sara K. Loebis menyatakan kenaikan harga komoditas memang memberikan dampak pada penjualan alat berat. Berdasarkan laporan bulanan perseroan November 2017, penjualan alat berat perseroan mencapai 3.467 unit selama 11 bulan tahun 2017 atau naik 73% dari capaian penjualan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 2.002 unit.

Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi sejak Januari 2016. Dari jumlah tersebut, penjualan alat berat United Tractors untuk sektor pertambangan meningkat menjadi 50% pada November 2017 dari hanya 27% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sara juga menyatakan penjualan alat berat perseroan rata-rata akan meningkat 10% pada 2018.

Namun, dalam periode yang sama produksi batu bara oleh anak usaha perseroan,  PT Tuah Turangga Agung, sempat mengalami penurunan selama 11 bulan 2017 dari 985.000 ton pada Januari 2017 menjadi 535.000 ton pada November 2017.



Meski demikian, Sara menyatakan pada 2018 produksi batu bara dari bisnis kontraktor tambang United Tractors akan naik sekitar 5%-10%. “Sesuai permintaan klien, produksi batu bara dari bisnis kontraktor tambang naik sekitar 5%-10%,” jelas Sara.

Sampai kuartal III 2017, United Tractors mencatatkan penjualan senilai Rp 46,26 triliun dengan laba bersih Rp 5,64 triliun. Sementara, saham UNTR juga terus mengalami penguatan selama sepekan terakhir. Tercatat pada awal pekan harga saham UNTR sebesar 35.425 pada awal pekan menjadi 37.000 memasuki awal sesi II perdagangan IHSG hari ini. 
(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading