CNBC Insight

Warga China Ramai-ramai Masuk Islam, Ternyata Ini Alasannya

MFakhriansyah, CNBC Indonesia
Kamis, 19/03/2026 11:45 WIB
Foto: Peziarah Muslim mengunjungi Gunung Al-Noor, tempat umat Islam percaya Nabi Muhammad menerima kata-kata pertama Alquran melalui Jibril di gua Hira, menjelang ibadah haji tahunan di kota suci Mekah, Arab Saudi, 11 Juni 2024. (REUTERS/Mohamad Torokman)



Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.



Jakarta, CNBC Indonesia - Agama Islam pernah berkembang pesat di China dan menarik banyak pengikut, menurut catatan sejarah. Lebih spesifik, perkembangan Islam di China terjadi pada masa pemerintahan Zhu Yuanzhang, pendiri Dinasti Ming yang memerintah pada 1368-1398.


Pada periode itu, Islam tidak hanya bertahan sebagai agama komunitas kecil. Sebaliknya, Islam berkembang dan mulai menempati ruang penting dalam kehidupan sosial hingga politik di China.

Riset berjudul Islam in Imperial China (2019) mencatat, awal Dinasti Ming menjadi salah satu periode paling kondusif bagi pertumbuhan komunitas Muslim di negeri tersebut. Pada masa ini jumlah orang yang memeluk Islam meningkat cukup signifikan.

Penyebaran Islam terjadi melalui berbagai jalur sosial. Dakwah dilakukan secara personal dan menjangkau komunitas-komunitas lokal. Mulai dari kampung, klan keluarga, hingga jaringan perdagangan. Interaksi sosial inilah yang membuat Islam semakin dikenal luas dan menarik minat banyak orang.

Dukungan Negara untuk Islam

Selain faktor sosial, dukungan negara juga ikut mempercepat perkembangan Islam. Pemerintah Dinasti Ming mendorong pembangunan masjid serta pusat pembelajaran agama. Para ulama dan cendekiawan Muslim pun mendapat ruang untuk berkembang di tengah masyarakat.

Tak hanya itu, komunitas Muslim juga mulai terlibat dalam struktur pemerintahan kekaisaran. Banyak di antara mereka yang direkrut untuk mengisi berbagai posisi penting, seperti administrasi negara, militer, hingga lingkungan istana.

Bahkan, dalam praktiknya, sejumlah tokoh Muslim dipercaya memegang jabatan strategis seperti penasihat kekaisaran, utusan diplomatik, kasim istana, hingga gubernur wilayah. Keterlibatan ini membuat komunitas Muslim semakin berpengaruh dalam kehidupan politik dan sosial pada masa tersebut.

Jejak penerimaan terhadap budaya Islam bahkan terlihat pada artefak kekaisaran. Beberapa benda istana dari era Dinasti Ming diketahui memiliki hiasan kaligrafi Arab dan Persia, yang menunjukkan adanya pengaruh tradisi Islam dalam lingkungan kerajaan.

Meski demikian, dukungan terhadap Islam juga berjalan beriringan dengan pemaksaan proses asimilasi budaya. Komunitas Muslim di China perlahan menyesuaikan diri dengan budaya lokal.

Riset berjudul Islam in Imperial China: Sinicization of Minority Muslims and Synthesis of Chinese Philosophy and Islamic Tradition (2019) menyebut bahwa proses ini dikenal sebagai sinisasi, yakni adaptasi budaya yang membuat sebagian identitas kultural Muslim Hui berbaur dengan tradisi Tionghoa.

Salah satu bukti paling menarik dari hubungan dekat antara kekaisaran Ming dan Islam adalah puisi pujian terhadap Nabi Muhammad yang dikenal sebagai Hundred-Word Eulogy. Teks tersebut sering dikaitkan dengan masa pemerintahan Zhu Yuanzhang dan menggambarkan Nabi Muhammad sebagai sosok bijak yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

Menurut riset Praising the Prophet Muhammad in China, keberadaan puisi ini menunjukkan bahwa Zhu Yuanzhang memiliki pemahaman terhadap ajaran Islam, meskipun ia sendiri tidak menjadi pemeluk agama tersebut. Pujian tersebut juga menandakan bahwa pada masa itu Islam dipandang sebagai kekuatan moral dan spiritual yang memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat China.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Tren Kecantikan Perawatan Botox hingga Filler Untuk Anak Muda