CNBC Insight

Kata Oke Ternyata Singkatan, Ini Kepanjangannya

MFakhriansyah, CNBC Indonesia
Sabtu, 21/02/2026 16:00 WIB
Foto: Peserta yang duduk di dalam bus mengacungkan jempol saat bersiap meninggalkan lokasi perkemahan Jambore Pramuka Dunia ke-25 di Buan, Korea Selatan, 8 Agustus 2023. (REUTERS/KIM HONG-JI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kata "OK" atau "oke" digunakan secara luas di berbagai negara, baik dalam percakapan ataupun tulisan. Istilah ini fleksibel karena bisa berfungsi sebagai atakerta, kata sifat, maupun kata benda tergantung konteksnya.

Umumnya "OK" dipakai untuk menyatakan persetujuan, penerimaan, kebenaran, atau sekadar menandakan bahwa tidak ada masalah. Meski sangat populer, belum banyak yang mengetahui bahwa kata ini diyakini merupakan singkatan dan memiliki sejarah yang panjang.

Sejumlah teori pun muncul mengenai asal-usulnya. Ada yang menyebut "OK" berasal dari kata "Okeh" suku Indian. Sementara itu, pendapat lain mengaitkannya dengan singkatan dari merek biskuit di Amerika Serikat, yakni "Orrin Kendall".


Meski begitu, pada dekade 1960-an, ahli bahasa Allen Walker Read menelusuri asal-usul kata "Ok". Dalam studi berjudul "The First Stage in the History of "O.K"" (1963), Read menelusuri kata tersebut ternyata berawal dari tahun 1839.

Pada 23 Maret 1839, surat kabar di AS, Boston Post, menjadi yang pertama mempopulerkan kata "Ok" di dunia. Redaktur bernama Charles Gordon Greene menulis kata "Ok" di judul berita guna mengikuti trend singkat-menyingkat kata yang gandrung di kalangan penutur bahasa Inggris di AS tahun 1830-an. Kala itu, sudah ada singkatan seperti "RTBS" (Remains to be Seen), OMG (Oh My God), dan sebagainya.

Nah, Charles mempopulerkan kata baru, yakni "Ok". Ini merupakan singkatan dari "oll korrect", ubahan dari "all correct". Sesuai makna dan artinya, kata tersebut berupaya mengonfirmasi kebenaran atas apapun yang terjadi. Sifat bahasa yang dinamis kemudian membuat "Ok" menjadi kata serbaguna dalam bahasa Inggris.

Apapun pertanyaan, konfirmasi, permintaan, pasti dijawab "Ok".

Belakangan, kata ini juga meresap ke berbagai bahasa lain di dunia. Allen Walker Read menyebut alasannya karena "Ok" mudah diucapkan dan sangat singkat. Bahkan, "Ok" seakan-akan jadi simbol dalam bertutur kata. Meskipun pada sisi lain penyingkatan kata tak bisa menunjukkan emosi penutur. Bisa saja "Ok" menunjukkan konfirmasi positif dan negatif.

Popularitas kata "Ok" juga terjadi di bahasa Indonesia.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengubah "Ok" menjadi "Oke". Lalu mengartikannya sebagai "kata untuk menyatakan setuju". Sama seperti di luar negeri, kata ini juga dipakai untuk konfirmasi persetujuan, penerimaan, kebenaran atau bentuk ungkapan tidak ada sesuatu yang salah dalam laku komunikasi orang Indonesia.


(mkh/mkh)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Intip Perlindungan Maksimal Tinted Sunscreen Finally Found You!