Rajin Gowes Bikin Prostat Bermasalah? Dokter Ungkap Faktanya

mkh, CNBC Indonesia
Sabtu, 03/01/2026 07:40 WIB
Foto: CFD di JLNT Antasari Jaksel (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia — Bersepeda selama ini kerap dikaitkan dengan kekhawatiran akan gangguan prostat dan fungsi seksual pada pria. Namun, seorang dokter urologi menegaskan bahwa aktivitas bersepeda tidak terbukti menyebabkan kerusakan prostat maupun meningkatkan risiko disfungsi ereksi dalam jangka panjang.

Mengutip CNN.com, Sabtu (3/1/2026), dalam pengalamannya selama pandemi, sang dokter mengaku sempat merasakan tekanan di area panggul setelah rutin menggunakan sepeda statis. Meski menimbulkan kecemasan, keluhan tersebut bukan berasal dari gangguan prostat, melainkan dari tekanan pada area perineum, yakni jaringan lunak di antara skrotum dan anus.

Secara anatomi, prostat terletak di bawah kandung kemih dan dikelilingi oleh otot dasar panggul serta saraf penting yang juga berperan dalam fungsi ereksi. Tekanan berkepanjangan saat duduk, termasuk saat bersepeda, dapat memicu sensasi nyeri atau tidak nyaman yang kerap disalahartikan sebagai masalah prostat.


Dokter tersebut menjelaskan, sadel sepeda yang sempit atau posisi duduk yang terlalu lama dapat menekan jaringan di sekitar prostat, tanpa merusak kelenjar prostat itu sendiri. Kondisi ini sejalan dengan panduan Asosiasi Urologi Amerika yang menyebut tekanan perineum dan kebiasaan duduk lama sebagai pemicu nyeri panggul, bukan cedera prostat.

Kekhawatiran terkait disfungsi ereksi juga dinilai berlebihan. Studi terbaru menunjukkan bersepeda secara rutin tidak meningkatkan risiko gangguan ereksi. Sebaliknya, olahraga bersepeda justru membantu menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah, yang berperan penting dalam fungsi seksual pria. Keluhan kebas atau kesemutan yang muncul setelah bersepeda umumnya bersifat sementara dan akan hilang setelah tekanan berkurang.

Meski demikian, beberapa faktor dapat memperparah keluhan, terutama pada pengguna sepeda statis yang cenderung berada dalam satu posisi dalam waktu lama. Faktor lain seperti bentuk sadel, tinggi setang, postur tubuh, serta durasi duduk tanpa jeda turut memengaruhi tingkat tekanan pada area panggul.

Untuk menjaga kesehatan panggul, dokter menyarankan penggunaan sadel dengan desain berlubang atau terbelah di tengah, berdiri sejenak setiap 10-15 menit, serta peningkatan durasi bersepeda secara bertahap. Apabila keluhan menetap, terapi otot dasar panggul dapat menjadi salah satu pilihan penanganan.

Dokter menekankan bahwa keluhan yang berlangsung lama, disertai nyeri saat ereksi atau perubahan pada saluran kemih, sebaiknya diperiksakan ke tenaga medis. Namun secara umum, bersepeda dinilai aman dan dapat tetap menjadi bagian dari gaya hidup sehat apabila dilakukan dengan teknik dan perlengkapan yang tepat.


(mkh/mkh)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Ragunan Catat Puncak Kunjungan 1 Januari, 113.398 Wisatawan