Jauhi 3 Kesalahan Parenting Ini Jika Tak Mau Anak Jadi Narsis

Lifestyle - Linda Hasibuan, CNBC Indonesia
16 August 2022 19:57
A man walks his baby in a baby stroller at Humlegarden in Stockholm on September 24, 2020. - While France has just increased paternity leave to 28 days, in Sweden, a pioneer in gender equality, parents share 480 days off, which can be taken until the child's 12th birthday at 80% of the salary for the first 390 days and fathers have a minimum of three months, but only half of them take full advantage of it. (Photo by Jonathan NACKSTRAND / AFP) (Photo by JONATHAN NACKSTRAND/AFP via Getty Images) Foto: AFP via Getty Images/JONATHAN NACKSTRAND

Jakarta, CNBC Indonesia - Cara orang tua dalam mendidik sangat berpengaruh terhadap pribadi anak. Salah satunya anak bisa menjadi pribadi yang narsis akibat pola pengasuhan tertentu. 

Anak yang narsis merasa dirinya lebih baik dari orang lain, sehingga selalu ingin dikagumi dan mendapatkan perhatian lebih. Penelitian menunjukkan bahwa kepribadian narsistik itu diciptakan dan bukan bawaan lahir.

Berikut adalah tiga kesalahan berbahaya yang bisa membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang narsis, seperti dikutip dari CNBC Make It:

1. Tidak mengakui perilaku negatif Anda sendiri

Anak-anak belajar dengan cara mengamati dan mengikuti. Itu artinya mungkin mereka mengikuti tindakan negatif Anda.

Katakanlah seorang pelayan membawakan pesanan makanan yang salah. Alih-alih menangani situasi dengan tenang, Anda malah mempermalukan dan meneriaki pelayan tersebut. Anak Anda tentu memperhatikan dan berpikir cara Anda bereaksi terhadap situasi. 

Inilah sebabnya mengapa sangat penting untuk mengajarkan dan menunjukkan kepada anak-anak Anda seperti apa kecerdasan emosional (atau EQ), terutama komponen empati.

Cara terbaik untuk melatih empati adalah membantu anak mengenali perasaannya sendiri. Berlatih kecerdasan emosional akan membantu anak untuk mengekspresikan perasaan mereka dan memperhatikan perasaan orang lain di masa depan.

2. Tidak mencerminkan atau memvalidasi perasaan anak

Secara alami, setiap individu membutuhkan validasi dari orang tua untuk membentuk identitas dan kepribadian. Jika Anda mempermalukan, mengalihkan perhatian, atau mengabaikan emosi anak Anda, pada dasarnya Anda sedang mengajari mereka bahwa apa yang mereka rasakan salah.

Akibatnya, mereka akan kesulitan mengatur perilaku mereka. Kondisi ini berbahaya karena bisa menyebabkan sejumlah masalah seiring bertambahnya usia mulai, dari perilaku mati rasa, hingga perilaku protektif yang merupakan sifat narsistik yang umum.

Studi juga menemukan bahwa rasa malu, rasa tidak aman, dan ketakutan adalah akar dari diri narsis. Jika seorang anak tidak menerima validasi dan dukungan yang memadai dari orang tuanya, ia cenderung akan menekan emosi negatif yang datang dari pengabaian orang tuanya. 

3. Mengabaikan perilaku narsistik anak Anda

Jika anak Anda marah di depan umum karena tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, jangan biarkan itu terjadi. Dalam situasi seperti ini, Anda tidak perlu mempermalukan anak Anda, tetapi penting untuk mengeluarkan mereka dari situasi tersebut.

Mulailah dengan mengajukan tiga pertanyaan:

"Apa yang terjadi?"

"Bagaimana perasaanmu?"

"Menurut kamu bagaimana reaksi kamu tadi memengaruhi orang lain (atau orang-orang di sekitar Anda)?"

Pertanyaan seperti di atas dapat membantu mereka melatih empati, kesadaran sosial, dan keterampilan regulasi emosional.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

3 Tipe Narsisme Menurut Ahli Psikologi, Ada yang Mirip Kamu?


(hsy/hsy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading