Benarkah Masker Bikin Wajah Jerawatan? Ini Penjelasannya

Lifestyle - Yuni Astutik, CNBC Indonesia
03 November 2020 14:38
Sebanyak 150 orang pedagang pasar tradisional menjalani Swab COVID-19 yang dilakukan oleh puskesmas Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat. 17/6/20. CNBC Indonesia/Tri Susilo

Swab COVID-19  dilaksanakan oleh pihak Puskesmas Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat pada Rabu (17/6/2020) mulai pukul 08.00 hingga selesai. Seluruh petugas medis yang melaksanakan Swab test juga dibekali alat pelindung diri (APD) lengkap.

Jakarta, CNBC Indonesia- Penggunaan masker ketika berada di luar rumah disarankan untuk mencegah paparan virus Covid-19 dari orang lain. Bahkan #pakaimasker juga menjadi salah satu dari protokol kesehatan yang diterapkan, bersama dengan mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak.

Namun penggunaan masker pun memberikan dampak negatif sepertu jerawat di daerah yang tertutup masker. Hal ini disebabkan oleh bagian yang tertutup masker menjadi lebih lembab dan lengket, sehingga memacu timbulnya jerawat di sekitar mulut, pipi, hidung, dan dagu.

Dikutip dari Northwestern Medicine, Dermatologis Walter J Liszewski mengatakan jerawat yang dialami orang yang memakai masker adalah jerawat kecil seperti rosacea.


"Beberapa orang sebelumnya tidak pernah memiliki jerawat seperti ini dalam hidup mereka," katanya dikutip dari nm.org, Selasa (03/11/2020).

Masker kotor bukanlah penyebab utama dari munculnya jerawat, namun dia menyarankan masyarakat tetap secara teratur membersihkan masker. Bakteri penyebab jerawat tumbuh di area yang lembab karena tertutup masker, inilah yang membuat penggantian masker pun tetap membuat masalah jerawat. Selain itu, durasi pemakaian masker juga tidak berkorelasi langsung dengan munculnya jerawat.

"Saya melihat banyak jerawat masker pada orang yang bekerja di perawatan kesehatan dan memakai masker wajah selama delapan jam sehari seperti pada orang yang hanya memakai masker ke toko bahan makanan," katanya.

Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah jerawat karena masker adalah mengurangi bakteri penyebabnya dengan mencuci wajah dengan pembersih yang mengandung 2-5% benzol peroxide. Kemudian diamkan selama 2-3 menit, dan dibilas hingga bersih.

Setelah itu, jangan lupa menggunakan pelembab yang tidak menyumbat pori-pori (non-comedogenic). Jika memang sudah ada jerawat yang timbul, janganlah sembarangan memegang atau memencetnya.

Selain jerawat, penggunaan masker juga dapat memicu iritasi karena gesekan masker pada wajah. Untuk menghindari gesekan dan iritasi, pengguna masker bisa sedikit mengurangi tekanan masker dengan memperpanjang tali pengikat. Selalu pilih masker yang lebih besar dan sesuai dengan bentuk wajah.

"Dermatitis gesekan atau iritasi dapat dengan mudah diredakan dengan meminimalkan tekanan masker pada wajah, atau menggunakan krim pelindung tebal untuk melindungi kulit dari gesekan," kata Liszewski.

Bagi kulit yang sudah terlanjur lecet atau iritasi, bisa menggunakan krim pelindung yang mengandung zinc oxide yang sering digunakan untuk mengatasi ruam popok, atau proteleum jelly. Jenis krim ini dapat mencegah iritasi lebih parah dan mempercepat penyembuhan.

Dr. Liszewski menambahkan bahwa stres akibat pandemi dan isolasi juga dapat memperburuk masalah kulit. Praktik pereda stres mungkin berguna jika dikombinasikan dengan pengobatan untuk jerawat.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading