Ini Deretan Merek Fashion Prancis yang Terseret Seruan Boikot

Lifestyle - Wilda Asmarini, CNBC Indonesia
30 October 2020 18:40
A person photographs creations during a photocall for the

Jakarta, CNBC Indonesia - Prancis memang terkenal dengan kiblat industri mode dunia. Beragam jenis merek mode ternama kelas atas muncul dari Negeri Menara Eiffel Ini. Namun sayangnya, adanya sentimen terhadap umat Muslim akibat pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dinilai menyakiti umat Muslim turut menyeret seruan pemboikotan penggunaan produk-produk asal Prancis, termasuk produk modenya.

Seruan pemboikotan produk mode asal Prancis pun dikeluarkan oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

"Kini saya menyerukan kepada bangsa kita, sebagaimana yang telah terjadi di Prancis untuk tak membeli merek-merek Turki, maka saya menyerukan kepada bangsa saya di sini dan mulai sekarang: Jangan perhatikan barang-barang berlabel Prancis, jangan beli barang-barang itu!" katanya.


Hanya dalam hitungan jam, Turkish Youth Foundation (TÜGVA), sebuah organisasi yang erat kaitannya dengan pemerintah, mengunggah foto berisi daftar merek Prancis untuk diboikot, seperti dikutip dari Wolipop Detik.com. Foto tersebut langsung marak beredar di media sosial.

Selain merek otomotif seperti Renault dan Peugeot, terdapat pula nama-nama besar dari industri mode Prancis. Berikut daftarnya, seperti dikutip dari Wolipop Detik.com:

1. Christian Dior
Jenama (merek) mode ini didirikan oleh Christian Dior dan telah berdiri sejak 8 Oktober 1946. Di bawah arahan sang pendiri, Dior merebut perhatian dunia dengan desainnya yang dianggap inovatif karena berbeda dari kebanyakan busana perempuan saat itu.

Bar jacket menjadi salah satu tawaran Dior yang menggebrak dunia fashion sehingga mendapat julukan 'New Look'. Seiring berjalan waktu, Dior sebagai sebuah perusahaan terus berkembang dengan merambah ke produk parfum hingga busana pria.

Saat ini, Dior dipayungi oleh grup LVMH dengan Maria Grazia Chiuri sebagai direktur kreatif untuk koleksi busana wanita. Menurut Forbes, nilai merek ini sudah menyentuh angka US$ 89,6 miliar atau sekitar Rp 1.317 triliun (asumsi kurs Rp 14.700 per US$).

2. Louis Vuitton
Meski kini termasuk salah satu merek high-end, ternyata awal mula LV jauh dari kesan glamor. Sang pendiri, Louis Vuitton diketahui sebagai seorang pria miskin dari Anchay, sebuah desa kecil di Prancis.

Demi bertahan hidup, Louis Vuitton memulai usaha kecil-kecilan. Ia membuat peti dan koper yang pada akhirnya diminati kaum elite. Toko pertamanya buka pada 1854 sebelum akhirnya berkembang menjadi pembuat tas dan busana ready to wear.

Di era modern, Louis Vuitton yang saat ini dimiliki oleh LVMH telah melalui banyak pergantian kepala kreatif busana wanita dan pria yang hampir semuanya merupakan desainer ternama. Sebut saja Marc Jacobs, Nicolas Ghesquière dan Virgil Abloh. Forbes mencatat, valuasi Louis Vuitton pada 2020 mencapai US$ 47,2 miliar atau sekitar Rp 694 triliun.

3. Yves Saint Laurent (YSL)
Berdiri sejak 59 tahun lalu, Yves Saint Laurent membuat label ini setelah bekerja untuk Dior. Salah satu karyanya, setelan 'Le Smoking', disebut-sebut sebagai salah satu revolusi terbesar di dunia fashion.

Nama YSL sebagai sebuah merek sempat berganti menjadi Saint Laurent ketika berada di bawah pimpinan desainer Hedi Slimane sebagai direktur kreatif. Pendapatan merek ini diperkirakan mencapai US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp 17,6 triliun.

4. Chanel
Seorang pengusaha wanita sukses bernama Coco Chanel menjadi cikal bakal lahirnya merek legendaris ini. Ia mendirikan Chanel pada 1910. Salah satu karya fenomenalnya adalah 'Chanel Suit', sebuah setelan berpadu rok yang terbuat dari bahan tweed.

Karl Lagerfeld mengambil alih urusan desain pada 1983 dan sejak itu pula nama Chanel semakin bersinar. Pada 2018, penjualan Chanel hampir mencapai US$ 11 miliar atau sekitar Rp 162 triliun.

5. Lacoste
Identik dengan logo buayanya, Lacoste yang hadir sejak 1933 ini menjual produk pakaian, aksesori hingga perlengkapan olahraga. Pendirinya adalah pemain tenis Rene Lacoste dan Andre Giller.

Dengan sejarahnya yang erat dengan tenis, Lacoste pun selalu mendukung perhelatan French Open atau Roland Garros. Pada 2016, situs Fashion United mencatat Lacoste memiliki valuasi sebesar US$ 1,03 miliar atau sekitar Rp 15 triliun.

6. Givenchy
Hubert de Givenchy mendirikan rumah mode ini pada 1952. Desainnya yang elegan dan feminin berhasil merebut hati para bintang Hollywood dan bangsawan di era 1950-1960-an. Little black dress yang dipakai Audrey Hepburn di film 'Breakfast at Tiffany's' menjadi salah satu karya ikonis Givenchy.

Pada 2018, Givenchy kembali menjadi pusat perhatian setelah Meghan Markle memakai gaun karya direktur kreatifnya, Clare Waight Keller.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading