Tak Usah Bingung, Ini Investasi Aman & Cuan di Era New Normal

Lifestyle - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
07 June 2020 21:34
aidil akbar, financial planner acara BCA ya
Jakarta, CNBC Indonesia- Di masa pandemi COVID-19 masyarakat harus segera beradaptasi dengan perubahan yang ada dan memasuki era new normal. Apalagi di masa pandemi COVID-19 nyaris semua sektor terpukul, dan portofolio investasi yang dimiliki masyarakat banyak yang mengalami kerugian.

Lalu bagaimana investasi yang tepat di masa pandemi ini?

Perencana Keuangan Aidil Akbar mengatakan sebelum berinvestasinya pastikan memiliki dana yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pastikan juga dana yang akan dialokasikan untuk investasi tidak dihitung dalam aset likuid yang dicairkan dalam waktu dekat, terutama jika memilih pasar modal.


"Kalau kita sampai akhir tahun dananya sudah aman, dan masih ada uangnya maka ini saat yang tepat untuk masuk, karena marketnya masih sideways. Jadi kalau untuk jangka panjang panjang masih oke," kata Aidil melalui livestreaming di detiknetwork, Minggu (7/6/2020).


Yang menjadi masalah adalah investor tanggung yang tidak bisa memposisikan dirinya sebagai trader atau investor. Sebagai investor kondisi ini tepat untuk masuk karena uangnya kan tidak akan dipakai untuk 3-5 tahun lagi. Sementara untuk trader masa ini menurutnya tidak terlalu berpengaruh, karena perhitungan pergerakan harian.

"Agak bahaya kalau yang nanggung, jiwanya investor tetapi maunya trading. Seringkali dia telat keluar saat lagi bagus, lalu uangnya nyangkut kan nanti malah pusing," katanya.

Pilihan lainnya adalah investasi emas yang secara value masih cukup aman meski tetap ada potensi naik ataupun turun. Instrumen investasi yang cukup aman diluar produk perbankan yakni reksa dana pasar uang,reksa dana pendapatan tetap, reksa dana campuran khusus untuk jangka waktu yang lebih panjang.

Yang tidak kalah penting dari investasi di pandemi ada pengaturan pengeluaran baik bagi yang penghasilannya berkurang, tetap, ataupun freelancer.

Khusus untuk freelancer Aidil menyarankan untuk memisahkan rekening tabungan degan rekening pengeluaran sehari-hari agar uangnya tidak langsung habis. Presentase yang biasanya digunakan adalah 40% untuk kebutuhan hidup, 30% cicilan, dan 20% investasi dan gaya hidup, dan 10% untuk sosial. Aidil mengatakan pos-pos tersebut akan berubah ketika banyak bekerja dari rumah.

"Kalau uangnya biasanya sudah teratur rapi nanti akan kelihatan pos mana yang akan hilang duuan, kalau punya kewajiban (cicilan) mereka kan ga mungkin dihilangkan. Kedua biaya hidup yang 40% bisa ditekan misalnya transportasi, mungkin ada shifting ke biaya jajan meningkat," ujar Aidil.

Dia juga mengingatkan yang terpenting telah memiliki dana darurat. Konsep dana darurat sebenarnya bukan hanya dikenal baru-baru ini melainkan sudah dikenal dari generasi sebelumnya, namun biasanya bukan berupa aset likuid.

"Dalam kondisi ini jangan ragu buat dipakai dana daruratnya, karena ini kan kondisi darurat," kata Aidil.

Dia mengatakan sempat ramai di media sosial gaji Rp 80 juta di-PHK dan tidak bisa mencukupi kebutuhannya, hal ini menjadi penanda bahwa mereka tidak punya emergency fund. Aidil mengatakan dana darurat bisa menggunakan beberapa instrumen keuangan dengan memperhatikan likuiditasnya, mulai dari tabungan, deposito, reksa dana pasar uang, dan juga emas.

"Di masa pandemi ini dana daruratnya harus naik 25-50% dibandingkan yang biasa disarankan. Misalnya dari yang sudah 3 kali atau 6 kali gaji, berarti ditambahkan 25-50% lagi," kata Aidil.


Yang paling penting dari dana darurat adalah ketika mengalami PHK. Nantinya setelah masa pandemi lewat, dan mendapatkan sumber penghasilan lagi maka kelebihan dana darurat bisa dikembalikan ke investasi.

"Jaga-jaga saja, kita tidak pernah tahu prediksi COVID-19 ini sampai kapan," ujarnya.
Artikel Selanjutnya

Risma Marah Besar, Mobil Lab Corona Dibawa ke Luar Surabaya


(dob/dob)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading