Virus Corona Hanya Mau Bertahan Hidup & Berkembang Biak

Lifestyle - Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
04 June 2020 15:45
Logo Wolrd Health Organization (WHO). (Dok. www.who.int)
Jakarta, CNBC Indonesia - Para ahli virologi dan epidemiologi mengatakan virus corona memang terus berevolusi dan bermutasi seiring perkembangan waktu. Namun tak perlu khawatir, sebab evolusi virus ini belum sampai tahap bisa menyebar cepat dan mematikan.

"Semua virus pasti berevolusi," ujar Eksekutif Direktur WHO untuk Program Emergency Dr Mike Ryan. "Mereka bisa berevolusi ke satu arah, tapi bisa juga ke arah lain," lanjutnya, sebagaimana dikutip dari CNBC Internasional.

WHO dan para pakar terus mempelajari dan melacak perubahan genetik virus di negara-negara di seluruh dunia untuk memantau mutasi. Termasuk mempelajari setiap perubahan gejala virus.


"Sejauh ini, setahu saya, kami belum melihat tanda khusus dalam bentuk apapun terkait prilaku virus yang berubah-ubah dan berdinamika penularannya hingga bisa sampai tahap penyebaran mematikan."



Ryan menuturkan bahwa virus RNA seperti virus corona bermutasi lebih cepat dibanding beberapa virus lain, karena tidak seperti DNA manusia, virus RNA tidak memiliki pemeriksaan kesalahan alami, yang berarti bahwa kode virus tidak dapat memperbaiki dirinya sendiri.  Itu memberi virus RNA beberapa keuntungan dan juga kerugian.

 "Kerugiannya adalah mereka membuat banyak kesalahan dan banyak virus tidak berkembang atau bertahan hidup.  Sangat jarang, mutasi dapat menyebabkan virus menjadi lebih efektif atau lebih ganas dalam penularan," kata Ryan.

Secara umum, virus berevolusi untuk hidup bersama manusia. Artinya virus tidak akan mengganas dan manusia akan bisa bertahan, tapi virus bisa menyebar lebih banyak. 

"Kepentingan virus bukanlah sebabkan kerusakan pada penderita, tapi virus juga ingin bertahan hidup."


Van Kerkhove mengklaim, untuk saat ini virus relatif stabil.  Adapun perubahan yang diamati diharapkan tidak membuat virus bermutasi lebih parah dan lebih cepat menular.

Tapi, bukan berarti juga kini bisa lalai dan menganggap virus jadi tidak berbahaya.

Epidemiologi WHO Dr Maria Van Kerkhove mengatakan jika pemerintah dan publik terus mengabaikan protokol sehari-hari, maka penyebaran virus bisa menjadi ancaman lagi.


"Ini masih jauh dari selesai. Langkah-langkah kesehatan dan sosial publik ini mungkin perlu diperkenalkan lagi dan itu mungkin membuat orang frustasi, yang sepenuhnya bisa dimengerti.  Dan itu bisa membuat virus lebih berbahaya karena orang telah bosan," katanya.

[Gambas:Video CNBC]




(gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading