Duh, Orang Terkaya RI Sebut Indonesia Tak Business Friendly

Lifestyle - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
25 October 2019 14:10
Menurut Michael Bambang Hartono, pemerintahan kali ini masih tak business friendly dan perlu diperbaiki.
Jakarta, CNBC Indonesia- Orang terkaya di Indonesia, Michael Bambang Hartono, bicara soal kondisi ekonomi saat ini dan tantangan para pebisnis di saat perang dagang global terjadi.

Menurutnya kondisi ekonomi dunia saat ini sedang gonjang-ganjing dan tidak ada kepastian akibat perang dagang yang terus-terusan terjadi antara Amerika Serikat dan China.




"Jadi kepastiannya belum ada, dan ini menurut saya kedua negara ini tidak akan mundur, Amerika yang memulai, China tidak ada mundur dan akan tetap melawan," katanya kepada CNBC Indonesia saat dijumpai di DPP IKA UNDIP, Kamis malam (24/10/2019).

Dengan kondisi seperti ini, sebenarnya Indonesia harus mencari celah untuk memetik keuntungan. Caranya adalah dengan dibantu pemerintah mewujudkan iklim investasi yang business friendly. "Jangan seperti sekarang, very unfriendly," sebutnya.

Ia menjelaskan fenomena 33 perusahaan China yang pindah ke Asia Tenggara, jika pemerintah bisa baca kesempatan sebenarnya bisa menjadi peluang masuknya investasi. Tetapi kenyataannya 33 perusahaan China itu tak ada yang mampir ke Indonesia. Rata-rata memilih Vietnam, Kambodja, dan Myanmar.

"Coba Anda pikir, kenapa kok tidak ke Indonesia? Karena kita memusuhi mereka, very unfriendly. Tidak China saja, dari semua negara tidak ke Indonesia. Why?"

Ini, kata dia, menjadi pekerjaan rumah pemerintah saat ini. Sikap pemerintah yang kurang ramah bagi investor seakan-akan lebih suka bikin susah dibanding membuat mudah.

Ia pun berbicara soal kabinet baru pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin. Menurutnya beberapa pilihannya ada yang bagus, ada juga yang kurang. "Tapi pada dasarnya very good," kata dia.



[Gambas:Video CNBC]

Artikel Selanjutnya

Wah, Orang Terkaya Beli Klub Italia Demi Sepak Bola RI!


(gus/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading