Seungri dan Fakta Gelap di Balik Gemerlap Industri Kpop

Lifestyle - Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
13 March 2019 11:15
Seungri dan Fakta Gelap di Balik Gemerlap Industri Kpop
Jakarta, CNBC Indonesia- Hiruk pikuk industri hiburan K-pop telah mencuri perhatian dunia. Pengaruhnya tidak hanya di wilayah Asia saja, tapi juga sudah sampai ke benua lainnya. 

Tidaklah heran apapun yang menyangkut tentang mereka selalu menjadi sorotan. Peristiwa skandal dugaan penyediaan jasa seks komersial oleh personel boyband BigBang, Seungri, menjadi trending topic dalam beberapa hari ini.




Dilansir dari Variety, Seungri ditetapkan jadi tersangka atas kasus tersebut. Penetapan status diberikan untuk mempermudah proses penyelidikan, lantaran   dia diduga terlibat dalam kasus dugaan prostitusi dan narkoba di Club Arena yang ia kelola. Seungri disebut-sebut menyediakan jasa prostitusi untuk investor asingnya.

Tidak hanya itu, pada akhir Januari 2019 lalu, Seungri juga dilaporkan melakukan kekerasan terhadap pelanggan di Burning Sun, klub yang dia kelola. Setelah itu, dia dilaporkan telah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pengelola klub tersebut.

Terlepas dari hal tersebut, bagaimana dan seperti apa gemerlapnya dunia hiburan Kpop tentu membawa rasa ingin tahu bagi pecinta Kpop. Kenyataannya ada  beberapa fakta 'tidak biasa' dan cukup gelap yang cukup mencengangkan di balik industri Kpop.

Kontrak Bak Kerja Rodi
Telah menjadi rahasia umum, para artis K-pop sebelum menjadi bintang mereka harus dilatih/training secara bertahun-tahun, dan untuk jadi populer harus meluncurkan lagu yang hits. Jika gagal saat debut, terkubur sudah impian menjadi terkenal.

Dalam masa pelatihan itu, mereka hidup jauh dari gemerlap. Layaknya santri pesantren, mereka hidup bersama-sama di asrama dengan biaya pas-pasan yang dianggarkan oleh agensi.



Jadwal latihan pun bisa menggila, sama seperti bekerja. Bayangkan jika mereka harus sekolah, sepulang sekolah masih harus berlatih hingga larut malam.

Seungri dan Fakta Gelap di Balik Gemerlap Industri Kpop Foto: Anggota girlband asal Korea Selatan SNSD, Hyoyeon (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)


Situs aktivis feminis Korea Selatan thegrandnarrative pernah mengangkat isu eksploitasi para calon artis Kpop ini, terutama untuk para calon artis perempuan.

Ia memberi contoh dengan yang dialami oleh para personel Girls' Generations atau SNSD. Di situ dibeberkan bahwa member harus menghabiskan 11 tahun untuk pelatihan sebelum bisa menghasilkan uang sendiri. Beberapa bahkan tidak menghasilkan uang meski sudah punya rekaman lagu.

Belum lagi industri ini menganggap para artisnya seperti komoditas, layaknya batu bara dan migas di negeri ini, yang jadi senjata untuk menggenjot pendapatan.

Syarat utama agar 'barang dagangan' laris adalah tidak boleh ada cacat. Untuk itu, operasi plastik para calon idola menjadi hal yang sangat lazim di sana.

Seungri dan Fakta Gelap di Balik Gemerlap Industri Kpop Foto: Infografis/Intip Cuan Pabrik Artis-artis Kpop/Edward Ricardo



Isu Seksual Kerap Terlupakan
Sementara, selentingan kabar menyebut bahwa beberapa bintang K-pop harus siap menjadi budak seks adalah hal yang paling miris. Tabir ini terungkap ketika seorang aktris Korea bernama Jang Ja-yeon yang tewas di apartemennya karena bunuh diri akibat depresi setelah dijadikan budak seks oleh manajernya.

Polisi menemukan catatan terakhir Jang sebelum dia melakukan bunuh diri. Catatan tersebut berisi kalau dia dipaksa untuk melayani para pria mesum. Jika berani menolak, maka dia akan disiksa. Demi karir, dia terpaksa melakukan ini.



Tidak hanya itu, menurut survei hampir 30% wanita di industri K-pop mengakui bahwa mereka pernah dilecehkan dan bahkan dijadikan budak seks oleh para petinggi agensi. 

Memiliki ketenaran dan dielu-elukan oleh para penggemarnya, siapa sangka ternyata para bintang K-pop tidak memiliki hidup yang bebas. Ruang gerak mereka terbatas dan di kontrol  oleh agensi yang mengontrak mereka.

Para calon atau bintang K-pop setelah menandatangani kontrak biasanya mereka harus mengabdi untuk latihan selama m 10 sampai 13 tahun. Kontrak itu pun berisi persetujuan bahwa mereka rela menghabiskan waktunya di kamp sehingga mereka memiliki kehidupan masa muda yang membosankan.

Jika nekat membatalkan kontrak, mereka harus membayar denda tiga kali lipat dari jumlah investasi yang telah dibayarkan agensi. Mau tak mau, mereka terus meneruskan pelatihan meski sangat tersiksa.

[Gambas:Video CNBC] (gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading