Beda dengan Jakarta, Mal di Surabaya Justru Makin Padat

Lifestyle - Fikri Muhammad, CNBC Indonesia
05 March 2019 19:49
Beda dengan Jakarta, Mal di Surabaya Justru Makin Padat
Jakarta, CNBC Indonesia- Geliat Mal lesu ramai diperbincangkan dari mulai okupansi rendah, daya beli, hingga regulasi yang menyulitkan di Indonesia. Namun tidak untuk Surabaya, yang berada pada tingkat okupansi rata-rata mencapai angka 95 persen ke atas.

Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Jawa Timur Sutandi Purnomosidi menyebut bahwa 5 Mal seperti Tunjungan Plaza, Pakuwon Mal, Pakuwon Trade Center, Royal Plaza, dan East Cost Center mengalami perpanjangan tenant dan penyewaan sewa yang tumbuh sampai double digit.




Sutandi yang juga Comercial Director Pakuwon menyebutkan bahwa okupansi mal seperti East Cost Center dan Royal Plaza mencapai 99 persen.

Kemudian menurut Sutandi, untuk ritel dibawah Mal yang dikelola APPBI Jatim seperti Sogo dan Matahari mencapai pertumbuhan yang positif di Surabaya.

Ini berbalik dengan penurunan laba bersih PT Matahari Departmen Store di tahun 2018 yang mencatat laba bersih yang turun 42% dari tahun 2017.

"Terus kalo kita lihat, kami punya entertaintmen itu pun growth seperti sogo dan matahari. Growthnya masih 15 persen di Sogo dan di Matahari 8 persen. Jadi in overall dibawah pengelolaan kami semua masih oke," kata Sutandi pada CNBC Indonesia via telefon (5/3/2019).

Pemilihan anchor tenant (penyewa besar dalam mal) menurut Sutandi harus dimulai sejak Mal akan dibangun. Ini akan menentukan mau seperti apa target Mal tersebut. Maka perlu mempelajari demografi yang berada di kawasan Mal yang akan dibangun.

Demografi pasar Mal di Surabaya pun terbagi-bagi seperti misalnya Roya Plaza di Surabaya Selatan yang dikategorikan sebagai c class. Sedangkan untuk Tunjungan Plaza dan Pakuwon Mall untuk karegori E Class.

Mal-Mal yang berada di bawah pengelolaan APPBI Jatim sudah beroperasi semenjak 36 tahun yang lalu. Sutandi menyebutkan bahwa okupansinya tidak pernah dibawah 90 persen.

Strategi bisnis yang dlakukan adalah dengan tenant mix. Supaya tenan-tenan yang ada tetap bisa menjawab pasar yang dibutuhkan saat ini. Untuk tenan yang sudah tidak up-to-date maka perlu diganti.
"Itu strategi business. Karena jika tenant yang sudah tidak diminati lalu dipertahankan ya akhirnya mallnya sendiri akan ditinggalkan customer," kata Sutandi.

Saksikan video tentang mal-mal baru di Jakarta di bawah ini:
[Gambas:Video CNBC]
  (gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading