Penjualan Perhiasan Sepi, Tak Ada Lagi Breakfast at Tiffany's

Lifestyle - Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
21 January 2019 16:43
Penjualan perhiasan Tiffany menurun selama musim liburan Foto: Seorang wanita membersihkan jendela di toko Tiffany & Co. di jalan perbelanjaan mewah di Beijing, 4 Desember 2018. REUTERS / Thomas Peter
Jakarta, CNBC Indonesia- Tahun 1960-an perhiasan produksi Tiffany & Co adalah impian setiap wanita, dikejar oleh sosialita untuk dikenakan, sekaligus menunjukkan level kekayaan mereka.

Breakfast at Tiffany's, film yang diperankan oleh Audrey Hepburn pada 1961 turut melambungkan nama toko perhiasan ini. Sangat melekat tentunya di ingatan para penonton, adegan pagi buta di mana seorang wanita dengan gaun hitam dan bersanggul dengan santainya menatap jendela Tiffany & Co, sembari menikmati sarapannya.




Holly Golightly, sosok yang diperankan Audrey, begitu mencuri perhatian. Adegan ia memakan sepotong roti dan meyeruput kopi begitu kuat, filmnya pun laris manis tersebar ke penjuru dunia. Toko Tiffany & Co yang berada di Fifth Avenue kota New York menjadi simbol yang wajib dikunjungi sosialita mana pun untuk memboyong perhiasan idaman mereka.

Tapi kini, puluhan tahun kemudian, toko yang identik dengan kemewahan ini tengah berjuang dengan eksistensinya. Selama musim liburan, di mana penjualan biasanya meroket karena banyak turis dan sosialita yang memboyong perhiasan, justru lesu dan menurun.

Alhasil, Tiffany menahan proyeksi laba mereka Jumat kemarin. Bukan cuma penjualan dan kunjungan turis yang turun, terutama turis China yang jadi andalan mereka, tapi juga karena penguatan nilai dolar dan permintaan yang menurun di Eropa serta Amerika Serikat.

Seperti perusahaan barang mewah lainnya, Tiffany mengandalkan pembelian kelas menengah China yang sedang berkembang karena permintaan konsumen melemah di Amerika Serikat dan Eropa, ini karena terbebani oleh ketidakpastian seperti shutdown pemerintah AS dan rencana Inggris untuk keluar dari Uni Eropa.

Dilansir dari CNBC Internasional, selama periode November-Desember yang krusial, penjualan toko Tiffany di seluruh dunia turun 2 persen sementara penjualan bersih turun 1 persen.

Kepala Eksekutif Tiffany, Alessandro Bogliolo menyalahkan pembelanjaan yang melemah secara global karena faktor turunnya wisatawan asing, terutama China, dan banyak ketidakpastian dan volatilitas di Eropa dan Amerika.

"Kami melihat turis Tiongkok yang berbelanja di luar negeri turun tajam, minus 20-25, 30-35%, dan ini terjadi di banyak, banyak negara di AS, tetapi juga Hong Kong dan sekarang menyebar ke Asia Tenggara. Yang pasti itu karena nilai tukar," kata Bogliolo.

Saham Tiffany juga jatuh 22 persen dalam 12 bulan terakhir, baru naik 3 persen pada perdagangan pagi ini.

"Pariwisata adalah biang keladi bagi angka penjualan musim liburan TIF yang kurang memuaskan, tetapi ini bukan kejutan bagi kami mengingat dolar yang menguat," kata analis Jefferies Randal Konik, dikutip dari CNBC International, Senin (21/1/2019).

Bogliolo juga mengatakan masalah seperti Brexit, protes di Perancis dan penutupan pemerintah AS, sekarang di hari ke-28, membuatnya lebih berhati-hati tentang perkiraan penjualan dan pendapatan. Meski begitu ia mengharapkan beberapa kuartal yang sangat sulit. 

Perlambatan dalam pengeluaran oleh wisatawan Tiongkok mendorong Tiffany menghindar menaikkan target laba tahunannya pada bulan November. Pada hari Jumat, pihaknya memperkirakan laba setahun penuh untuk fiskal 2018 di sekitar batas bawah kisaran perkiraannya antara US$ 4,65 dan US$ 4,80 per saham.

Namun, permintaan pelanggan di toko-toko Tiffany di China daratan tetap kuat selama musim liburan, kata perusahaan.

David Schick dari Consumer Edge Research mengatakan bahwa kekuatan perusahaan selama ini adalah brand-nya yang menunjang bisnis jangka panjang.

Laporan penurunan penjualan ini juga dialami oleh ritel lainnya seperti Marcy's, Kohls, dan lainnya, yang turut mengecewakan bahkan ketika  musim belanja selama liburan 2018 A.S.

Pembuat perhiasan Signet pada hari Kamis melaporkan penjualan periode liburan yang lebih rendah dan memangkas proyeksi laba setahun penuh, mendorong sahamnya lebih dari 20 persen lebih rendah.

Tiffany, yang dikenal dengan cincin pertunangan, mengatakan bahwa penjualan saat liburan untuk cincin pertunangan dan perhiasan desainer masing-masing turun 3 persen dan 8 persen. Penjualan tahunan harus naik 6 hingga 7 persen, kata perusahaan itu. Jadi kini, tak ada lagi orang yang terpaku di jendela toko untuk melirik kilau berlian Tiffany seperti Holly Golightly. Orang pilih melintas, dan abai akan berlian yang dipajang.

Artikel Selanjutnya

Sah! Louis Vuitton Akuisisi Tiffany & Co Senilai Rp 226 T


(gus)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading