InvesTime

'Hantu' Tapering, Segini Dampak Besarnya ke IHSG & Rupiah

Investment - Lidya Julita Sembiring, CNBC Indonesia
25 August 2021 10:52
foto : CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

Jakarta, CNBC Indonesia - Isu tapering atau pengurangan pembelian aset oleh bank sentral AS, The Fed, sejak pekan lalu begitu 'menghantui' pasar keuangan dalam negeri sehingga membuat pasar saham terkontraksi. Ini tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat ambles nyaris 2% atau 1,77% sepekan lalu.

Lalu seberapa besar efek tapering ke IHSG dan rupiah?

Head of Online Trading PT Ciptadana Sekuritas Zabrina Raissa mengatakan, memang betul kontraksi yang terjadi di IHSG pada pekan lalu sedikit disebabkan oleh sentimen global yakni isu tapering. Begitu juga dengan rupiah, namun masih bisa dikendalikan dengan baik.


Bahkan depresiasi rupiah masih lebih baik dibandingkan negara berkembang lainnya saat dolar AS terapresiasi cukup tinggi.

"Mata uang rupiah ketika isu ini merebak tampaknya masih bisa terlihat ter-mantain dengan baik, di mana kita lihat rupiah kita ketika dolar apresiasi sekitar 3,8%, rupiah hanya melemah sekitaran 1,6%. Sementara negara-negara emerging market lainnya seperti Thailand yang melemah -7% dan Filipina melemah lebih dalam dari Indonesia," ujarnya dalam program InvesTime CNBC Indonesia, Senin (23/8).

Dengan kondisi ini, ia menilai bahwa Indonesia masih sangat mampu menopang jika tapering terjadi. Sebab, setelah sempat melemah hampir 2%, IHSG juga langsung bangkit dan kembali ke level 6.100 an.

Hal ini didukung oleh sentimen dari dalam negeri yang cukup baik. Salah satunya dengan melantainya perusahaan unicorn di bursa saham Indonesia yang memberikan dorongan arah positif.

"Kalau lihat pasar IHSG cukup kuat dan solid, karena masih banyak sentimen positif dari dalam negeri terkait dengan kita tahu juga company unicorn yang sudah listing di BEI yang tentunya ini akan menjadi booster untuk IDX market capitality dan nanti akan juga kita lihat the next another unicorn juga listing di Bursa Efek. Kita lihat juga ini tentunya jadi booster penahan laju IHSG tidak turun dalam seperti yang dipikir," jelasnya.

Perusahaan teknologi papan atas yang akan melantai dan disinggung Zabrina adalah GoTo Group, Traveloka, Tiket.com, dan lainnya.

Menurutnya, pelemahan IHSG hampir 2% pekan lalu tersebut wajar terjadi. Namun ke depannya laju indeks acuan BEI ini akan lebih stabil.

Ia menjelaskan, sebab reaksi pasar biasanya terjadi sebelum yang dikhawatirkan terjadi. Oleh itu, ia menilai ke depannya dampak tapering tidak akan sedalam tahun 2013 karena Indonesia saat ini lebih berdaya tahan.

"Karena ketika sudah dieksekusi justru market sudah mem-press in bahwa hal yang dikhawatirkan sudah terjadi. Jadi sudah nggak suprise lagi, bahwa apa yang sudah terjadi ini ya terjadi. Biasanya market akan bereaksi lebih cepat dibandingkan eksekusi yang terjadi, bisanya saya lihat seperti itu," kata dia.

Namun, ia menuturkan di tengah ketidakpastian ini, strategi yang bisa ditempuh oleh investor adalah memilih sektor yang kemungkinan bisa bertahan saat tapering terjadi.

Misalnya, saat tapering terjadi maka rupiah akan melemah dan dolar menguat, maka bisa memilih sektor yang berorientasi ekspor.

"Mungkin buat pelaku pasar melihat juga bahwa tapering terjadi yang dikhawatirkan itu kan nanti dampaknya ke rupiah ya, di mana rupiah akan mengalami pelemahan."

"Jadi bisa diperhatikan untuk company-company yang berhubungan dengan impor, kita lihat akan berdampak ke performance-nya. Namun di sisi lain company yang melakukan bisnis secara ekspor nampaknya akan diuntungkan dengan adanya tapering ini," tuturnya.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading