Investime

Saat Transaksi Sepi, Begini Strategi Cuan & Aman di Saham

Investment - Yuni Astutik, CNBC Indonesia
19 April 2021 14:20
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Transaksi di pasar modal memang lagi sepi, tercatat tak sampai Rp 10 triliun pada Jumat (16/4) lalu di mana biasanya bisa mencapai Rp 20 triliun.

Equity Analis Philips Sekuritas, Hellen Vicentia mengatakan meski sepi, bukan berarti tak ada yang bisa dilakukan guna tetap bisa mendapatkan keuntungan pada perdagangan di pasar modal.

"Ada strategi yang bisa dilakukan oleh pelaku saham. Salah satunya adalah menabung saham," katanya kepada CNBC Indonesia pada tayangan Investime (16/4).


Dengan cara rutin melakukan investasi jangka panjang, ada ekspektasi yang diharapkan yaitu harga-harga saham tersebut akan meningkat di masa depan. Catatan dalam menabung saham ini adalah fokus pada saham dengan kinerja keuangan yang baik.

"Pendapatan naik, laba naik, sektor industri prospek bagus, cari saham undervalue, PE ratio rendah dengan perusahaan sejenis," katanya.

Secara historikal, momentum saat ini yaitu puasa dan lebaran bisa menjadi angin segar bagi sektor konsumer dan ritel. Sebab pada momen ini, biasanya ada kenaikan permintaan akan barang-barang tertentu.

"Dari daya beli masyarakat dari bulan sebelumnya seperti makanan-minuman, tentunya kenaikan konsumsi masyarakat, ada juga ritel seperti Ramayana masyarakat umumnya belanja pakaian dan baju baru selama kuartal ini," tegasnya.

Selanjutnya, salah satu sektor yang juga cukup menarik adalah unggas. Dari mayoritas penduduk RI, mayoritas merupakan penduduk muslim yang membutuhkan protein yang halal, berasal dari ayam.

"Puasa dan lebaran, konsumsi umumnya naik. Harga daging juga sudah naik," pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama HellenĀ mengungkapkan ada beberapa alasan kenapa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat jalan di tempat tak bergerak dan belum menembus level 6.000.

"Ada beberapa faktor IHSG luar dan dalam. Seperti kasus covid-19 dan vaksin diharapkan bisa memperbaiki ekonomi RI. Rilis dalam negeri neraca dagang, surplus. Lalu luar negeri rilis PDB china naik cukup signifikan 18,3% Q1 2021," ujar Hellen.

"Dalam pandangan kami sentimen masih adanya kenaikan yield obligasi tenor 10 tahun AS. Hari ini tenor berada di 1,6% cukup membantu pergerakan pasar," imbuhnya.

Menurutnya, pelaku pasar masih wait and see, sebab sejumlah negara berharap akan pemulihan ekonomi. Hal ini ditambah ada negara dengan kabar yang tak menggembirakan, misalnya India.

"India sekarang menjadi negara dengan kasus covid-19 kedua di dunia. Ada vaksin tidak terlalu efektifitasnya. Ini sempat memberikan kecemasan kepada pemulihan ekonomi global," katanya menambahkan.

Selanjutnya, guna menyiasati ini, ada investor yang akhirnya beralih ke instrumen lainnya. Misalnya dari saham ke obligasi. Bahkan dia juga mengatakan ada investor yang beralih ke bitcoin (BTC).

"Bahkan kurs BTC sudah mencapai 1 miliar. Nah bagi kalangan pelaku pasar baru, itu return lebih menjanjikan," pungkasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading