InvesTime

Iyah Unit Link itu Beda, Terus Mau Investasi Apa dong?

Investment - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
01 April 2021 17:30
Sejumlah nasabah dan agen PT Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 berdialog mengenai penolakan terhadap Badan Perwakilan Anggota Nomor : 26/BPA-RUA/XII/2020 di Kantor Wisma Bumiputera, (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Unit link merupakan salah satu produk asuransi yang menggabungkan proteksi dan investasi. Namun produk ini acapkali membuat heboh.

Belum lama ini muncul aksi protes nasabah unit link sebuah perusahaan asuransi di media sosial yang melaporkan telah kehilangan dananya.

Jika melihat lebih jauh, produk unit link merupakan produk asuransi yang juga punya manfaat investasi sehingga memiliki manfaat ganda. Sama seperti produk investasi lain, unit link juga memiliki kekurangan dan kelebihan.


Toufan Yamin, Investment Specialist PT Sucor Asset Management, mengatakan kebanyakan masyarakat masih salah kaprah mengenai produk yang satu ini, karena meski memiliki manfaat investasi, unit link tetaplah produk asuransi yang manfaat utamanya adalah perlindungan.

Meski memiliki perbedaan yang terlihat antara investasi dengan unit link, Toufan mengatakan masyarakat tetap bisa berinvestasi di unit link asalkan sudah memahami kekurangan dan kelebihan dari produk asuransi yang menggabungkan proteksi dan investasi tersebut.

"Pada fitur produk unit link ini, kita bisa memilih skemanya antara kita mau taruh di investasi saham atau campuran ada yang pendapatan tetap dan pasar uang," kata Toufan dalam program Investime CNBC Indonesia, Selasa (30/3/2021).

Hal yang perlu dicatat sebelum mencoba unit link adalah melihat cost of insurance. Inilah biaya yang akan dibebankan terhadap nasabah.

"Biaya akuisisi yang tinggi yang pada tahun pertama, kedua, ketiga tetap kena charge. Mungkin orang bakal kaget tiba-tiba di tahun keempat uangnya gak nambah dan malah berkurang karena proses akuisisi masih ada," katanya.

"Jadi mungkin itu yang perlu orang catat, melihat juga ketika ditawari (produk unit link) harus paham biaya apa saja yang akan di charge (dibebankan) kepada uang yang anda taruh secara periodikal."

Sementara, kata Toufan, investasi di saham atau reksa dana juga memiliki biaya yang sama tetapi tidak sebesar unit link, yang jika dibandingkan secara return tentu hasilnya akan berbeda karena jumlah cost-nya yang berbeda pula.

"Kalau, misal kita mau taruh di instrumen mana, tentunya kalau kita mau optimum ya sebagai alternatif, Anda bisa bandingkan beli asuransi tradisional saja, kalau kita gak sakit kan yaudah tinggal diperpanjang lagi tahun depan dan kalau sakit bisa kita pakai. Jadi investasinya bisa dipisah sendiri di reksa dana atau di instrumen lain," tukasnya.

Sebelumnya ramai masalah di industri asuransi Tanah Air dan menjadi sebuah fenomena. Terakhir, ramai-ramai nasabah protes lewat media sosial Protes tersebut dilayangkan ke perusahaan asuransi besar, yakni AIA Financial dan Prudential.

Sebuah forum dibuat di Facebook dengan nama "Korban Penipuan Asuransi AIA" dan telah menjaring setidaknya 3.600 anggota. Sebagian mengalami hal serupa. Yang terbaru, tepatnya pada 13 Maret 2021, seorang bernama Maria Trihartati membuat sebuah pengumuman.

Manajemen Asuransi AIA sudah angkat bicara mengenai keluhan pemegang polis perusahaan yang tersebar di media, yang mengaku kehilangan sejumlah sejumlah dana di media sosial.

Chief Marketing Officer PT AIA Financial Lim Chet Ming mengatakan Maria Trihartati adalah mantan nasabah AIA di Lampung dan keluhannya telah selesai diproses. Keputusan tersebut disampaikan kepadanya pada 7 September 2020.

"Saat ini kami tengah mempelajari data pada laman Facebook tersebut dan terus melakukan proses pengecekan untuk melakukan validasi nama-nama yang ada di forum ini dan memastikan siapa saja yang memang adalah nasabah terdaftar kami, serta sudah menyampaikan keluhannya melalui saluran komunikasi resmi AIA yaitu Customer Care Line," ujarnya.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading