Geger Bunuh Diri Efek Depresi Saham, Ini Tips Hindarinya

Investment - Lidya Julita Sembiring, CNBC Indonesia
24 March 2021 16:10
Diskusi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand di Bursa Efek Indonesia, Senin (18/2/2019). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Berinvestasi saham saat ini menjadi pilihan banyak masyarakat. Sebab, dianggap bisa memberikan keuntungan besar saat membeli saham-saham yang sedang populer.

Namun, perlu diketahui bahwa pergerakan harga saham tidak bisa diprediksi, sehingga bisa naik dan turun secara signifikan dalam waktu dekat.

Saham juga tipikal high risk high return artinya bisa untung besar tapi juga potensi risiko tinggi. Kondisi inilah yang menyebabkan banyak orang terlalu gegabah berinvestasi tanpa pengetahuan yang cukup sehingga ketika saham ambles, ada pula yang mengalami depresi.


Lalu apakah tips yang dipahami investor dan trader agar tidak depresi saat berinvestasi saham?

Financial Educator Manager PT Sucor Sekuritas Hendry Wijaya mengatakan, investor harus terlebih dahulu memahami risiko hingga melihat fundamental dari perusahaan yang akan diinvestasikan.

Ia menekankan untuk jangan membeli saham karena sentimen pasar. Misalnya saham di sektor farmasi yang sempat naik saat pandemi, saat ini mulai turun karena Covid-19 yang berkurang.

"Farmasi ini kan karena kondisi Covid-19, makin berkurang Covid-19 maka makin turun. Karena pada akhirnya berkurang penggunaan," ujarnya dalam program InvesTime, Selasa (23/3/2021).

Menurutnya, seperti saat ini bank-bank digital juga naik terus sehingga banyak investor yang ingin membelinya. Hal ini perlu diperhatikan yakni mencermati prospek ke depannya dan melihat siapa investor yang akan masuk ke bank digital tersebut.

"Orang pikir saham-saham di bank digital bakal naik dan orang beli semuanya. Tapi teman-teman semakin besar euforia market maka akan semakin besar risikonya. Jadi kalau bank digital ke depan bergantung ekosistem dan siapa yang dukung bank-bank ini. Di berita belum pasti didukung grup mana dan ke depan gimana," kata dia.

Oleh karenanya, ia juga mengimbau agar para investor menentukan tujuan awal berinvestasi. "Jika ingin dalam jangka waktu panjang maka cari perusahaan yang sudah lama dan memiliki track record yang bagus."

Sedangkan jika ingin menjadi trader, maka harus belajar analisis teknikal dan memahami bahwa risiko menjadi trader bisa sangat besar dalam waktu cepat.

"Jadi persiapkan diri untuk risiko besar jika ingin trader. Jadi teman-teman kita perlu berhati-hati di market," tegasnya.

Menurut dia hal ini penting untuk diperhatikan, apalagi beberapa hari yang lalu ramai berita soal bunuh diri yang diduga akibat depresi investasi.

Senin pekan ini (22/3), seorang pria berinisial A (27) tewas setelah loncat dari salah satu apartemen di Setiabudi, Jakarta Selatan. Polisi masih menyebut korban punya masalah ekonomi karena diduga merugi investasi saham.

Kapolsek Setiabudi AKBP Yogen Heroes Baruno mengatakan Polsek Setiabudi mengetahui hal itu dari keluarga korban. Menurut keluarga, korban sering terdiam beberapa hari terakhir ini.

"Nggak ada (interaksi terakhir). Kalau dari pihak keluarganya menyatakan akhir-akhir ini sering diam, kemungkinan ada masalah keuangan karena korban main saham kayaknya. Cuman masih kita dalami motif bunuh dirinya. Tapi kemungkinan masalah keuangan," jelas Yogen di lokasi, Senin (22/3/2021), dikutip Detik.com.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading