BRIS, ARTO & EMTK Baru Masuk Big Cap, Simak Analisisnya!

Investment - Tommy Sorongan, CNBC Indonesia
04 March 2021 13:25
Suasana pelayanan kantor cabang Bank Syariah Indonesia, Jakarta Senin (1/2). PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI/BRIS) resmi beroperasi. Direktur Utama BRIS Hery Gunardi menjelaskan bahwa integrasi ketiga bank BRIsyariah, BNI Syariah dan BSM telah dilaksanakan sejak Maret 2020 atau memakan waktu selama 11 bulan.

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan big cap atau yang memiliki kapitalisasi pasar (market capitalization) yang tinggi selalu menarik untuk dilirik para investor. Big cap biasanya mengacu pada saham dengan market cap di atas Rp 100 triliun.

Ada beberapa faktor yang mendasari hal ini, mulai dari nilai merek yang kuat dan lama hingga kesan bahwasanya saham-saham big cap tidak terpengaruh oleh kompetisi di pasaran.

Namun baru-baru ini, ada tiga emiten pendatang baru di jajaran big cap Rp 100 triliun yakni PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK).


Saham ketiganya tiba-tiba melesat dan membuat kapitalisasi pasarnya melejit dan bertengger di posisi perusahaan big cap dengan sangat cepat. Hal ini membuat publik beramai-ramai menaruh uangnya di perusahaan itu dan pergerakan harga ketiganya menjadi cukup volatil.

Melihat fenomena ini, William Siregar, Equity Analyst PT BNI Sekuritas, menilai bahwa saham big cap baru ini memiliki alasan kuat dari kenaikannya yang sangat gila-gilaan ini.

Ia menilai bahwa investor menilai ketiga perusahaan perbankan berbasis digital dan penyedia layanan digital ini akan meramu bentuk digitalisasi yang akan menjadi bagian dari tren masyarakat di masa depan.

"Memang kita masuk era yang dimana kegiatan kita akan masuk area digital, termasuk dalam kehidupan keuangan makanya ini merupakan peluang yang ada di Indonesia dan siap dikembangkan kedepannya," katanya, dalam program InvesTime CNBC Indonesia, baru-baru ini.

Namun ada satu hal yang perlu dicatat adalah mengenai apakah harga saham ketiganya saat ini telah menjadi cermin dari valuasi perusahaan yang sebenarnya atau tidak.

Ia menilai pemahaman bahwa bank digital akan menggantikan bank konvensional sudah terlalu banyak dipahami para investor sehingga menimbulkan gelombang investasi ke arah tiga emiten itu dan menaikkan harganya sehingga meningkat secara drastis, dengan demikian ada kecenderungan harga saat ini hanya aksi spekulasi.

"Nah tapi saat ini harga sahamnya [ARTO, BRIS, dan EMTEK] mencapai kapitalisasi Rp 100 triliun itu jadi memang bisa dibilang harga saham bank digital saat ini meskipun prospektif namun kondisinya sudah jauh dari realitanya. Justru ini merupakan kehati-hatian bahwa kita memasuki era spekulasi yang tinggi di bank digital," pungkasnya.

Maka itu, ia merasa perlu bagi investor untuk berhati-hati, mengingat valuasi bank digital secara riil belum bisa diformulasikan dan aksi profit taking alias ambil untuk di masa depan yang sangat mungkin bisa menurunkan harga saham ketiga emiten tersebut.

"Saya pikir ini hanya faktor risk and reward mengenai seberapa cepat mereka mendapatkan keuntungan dari saham dan mereka pikir mau masuk saham dengan keuntungan tercepat dengan masuk ke saham-saham yang tren saat ini begitu," tambahnya lagi.

Data BEI mencatat, pada perdagangan sesi I, Rabu ini, saham ARTO ditutup minus 1,14% di level Rp 10.825/saham dengan kapitalisasi pasar Rp 117,52 triliun. Year to date (YTD) sahamnya melesat 213%.

Saham BRIS ditutup turun 4,27% di level Rp 2.690/saham dengan kapitalisasi pasar Rp 110,37 triliun, dengan penguatan YTD 762% dan saham EMTK ditutup stagnan Rp 2.110/saham. Kapitalisasi pasar Emtek Group ini mencapai Rp 119,09 triliun dengan penguatan YTD 298%.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading