Internasional

Mark Mobius: Ini Saatnya Beli Saham Pasar Negara Berkembang

Investment - Wangi Sinintya Mangkuto, CNBC Indonesia
12 November 2018 16:54
Mark Mobius: Ini Saatnya Beli Saham Pasar Negara Berkembang
Jakarta, CNBC Indonesia - Saham-saham di pasar negara berkembang tampak "sangat murah" sekarang, dan ini adalah kesempatan untuk mulai melakukan aksi beli, kata investor terkemuka dan manajer investasi, Mark Mobius, kepada CNBC International, Senin (12/11/18).

Investor menjual kepemilikan saham mereka di pasar negara berkembang secara besar-besaran dalam beberapa bulan terakhir karena mereka cemas masalah keuangan di negara-negara, seperti Turki dan Argentina, bisa meluas ke perekonomian lainnya.



Selain kekhawatiran itu, ada lagi sentimen negatif penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan harga minyak, yang memukul negara-negara berkembang yang memiliki sejumlah besar utang luar negeri dan mereka yang merupakan net-importir energi.

Sebagai hasilnya, Indeks MSCI Emerging Markets, yang melacak saham-saham besar dan menengah di 24 negara, telah jatuh sekitar 16% tahun ini.

Namun Mobius mengatakan aksi jual telah membuka peluang investasi di pasar negara berkembang.

Mark Mobius: Ini Saatnya Beli Saham Pasar Negara BerkembangFoto: Aristya Rahadian Krisabella
"Pada akhirnya, ekuitas pasar berkembang terlihat sangat murah sekarang. Saatnya untuk masuk," kata salah satu pendiri Mobius Capital Partners kepada CNBC International.

Mata uang dan pasar saham beberapa negara sudah terlihat pulih. Itu karena dolar AS telah mulai stabil, yang mengurangi beban di pasar negara berkembang untuk membayar utang mereka dalam mata uang dolar, ujarnya.



Apa yang harus dibeli?

Mobius, investor berpengalaman di pasar negara berkembang, mengatakan pasar Amerika Latin, khususnya Brasil, sejauh ini telah memimpin pemulihan di kelas aset.

Rebound Asia telah tertinggal, tetapi kawasan ini masih membuka peluang, tambahnya. Secara khusus, sejumlah perusahaan kecil dan menengah China mencari sesuatu yang "menarik," kata investor ini, meskipun tanpa memberi nama.

Mark Mobius: Ini Saatnya Beli Saham Pasar Negara BerkembangFoto: Arie Pratama
Mobius juga mengatakan ia menyukai India, di mana tingkat pertumbuhan telah melampaui China dan Asia Tenggara.

"Kami sekarang mulai melihat di Indonesia lagi, Thailand tentu saja tidak buruk, maksud saya berarti mereka sudah dalam kondisi yang cukup baik, Malaysia adalah daerah lain yang akan sangat menarik," katanya.

Dalam hal sektor, Mobius mengatakan dia fokus pada perusahaan di industri tradisional, seperti ritel, yang menggunakan teknologi untuk meningkatkan produktivitas mereka. Dia juga memiliki preferensi untuk perusahaan dengan neraca yang kuat, sedikit utang, dan mereka yang membagi cadangan kas mereka antara investasi untuk ekspansi dan membayar dividen kepada pemegang saham.

"Dividen adalah tanda bahwa perusahaan pertama memiliki uang tunai, dan juga memikirkan para pemegang saham," katanya.


Risikonya

Sejumlah besar ahli, termasuk Mobius, telah memperkirakan harga minyak akan menyentuh US$100 per barel pada akhir 2018, yang akan menjadi berita buruk bagi pasar negara berkembang.

Tapi level itu sekarang terlihat tidak terjangkau hingga akhir tahun, kata Mobius. Ia menambahkan bahwa minyak masih bisa mencapai harga itu dalam jangka panjang.


Kabar baiknya adalah pada saat minyak menyentuh US$100 per barel, mata uang di pasar negara berkembang akan cukup pulih terhadap dolar AS, sehingga kenaikan harga itu tidak akan terlalu menyakiti keuangan mereka, jelasnya.

Risiko besar lainnya yang dihadapi pasar negara berkembang adalah eskalasi "buruk yang nyata" dalam ketegangan perdagangan antara dua pelaku ekonomi terbesar di dunia, tetapi kemungkinan itu terjadi juga kecil, katanya.

"Jika ada peningkatan yang sangat buruk dalam perang dagang antara AS dan China, itu tidak baik untuk Asia Tenggara. Tapi saya tidak melihat itu terjadi, benar-benar tidak," kata Mobius.

"Saya pikir orang China cukup pintar untuk mengetahui apakah mereka memberi Trump sesuatu, mereka akan menjadi pemenang dalam jangka panjang. Mereka mungkin harus merelakan sesuatu dalam jangka pendek, tetapi jangka panjang mereka akan baik-baik sajanya," katanya. (prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading