Perang Dagang AS-China Berkobar & Apple yang Jadi Korban

Fintech - Yuni Astutik, CNBC Indonesia
18 May 2019 - 18:53
Jakarta, CNBC Indonesia - Sudah sepekan terakhir perang antara Amerika Serikat dan Tiongkok jilid II memanas. Permasalahan ini berawal dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menaikkan tarif impor produk China ke AS dari 10% menjadi 25%.

"Tarif impor ini naik 25% berlaku 10 Mei 2019," demikian keterangan US Trade Representative, pada Rabu (8/5/2019) malam.

Investor memperhatikan pembicaraan ini dengan cermat. Indeks-indeks saham utama AS merosot pada Jumat hari berikutnya setelah tarif diberlakukan dan cuitan Trump di akun pribadinya dan mengatakan bahwa pihaknya 'tak terburu-buru' untuk menyelesaikan kesepakatan.



Penetapan tarif oleh Amerika ini bertujuan untuk mengatasi pencurian kekayaan intelektual, transfer teknologi paksa dan defisit perdagangannya dengan China. Tak tinggal diam, Beijing juga mengancam akan membalas langkah itu.

"Pihak China sangat menyesal bahwa jika kebijakan bea impor AS dilaksanakan, China terpaksa harus mengambil langkah-langkah balasan yang diperlukan," kata Kementerian Perdagangan China di situs webnya tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Kenaikan bea masuk itu akan mempengaruhi impor dari China, seperti modem komputer dan router, penyedot debu, meubel, lampu, hingga bahan bangunan.

Menanggapi perseteruan tersebut, China mengambil tindakan balasan dengan menaikkan tarif bea impor produk Amerika Serikat senilai US$60 miliar. Aturan ini akan berlaku 1 Juni 2019.

Simak dampak perang dagang bagi Indonesia di bawah ini:
[Gambas:Video CNBC]


(roy/roy)
1 dari 2 Halaman
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading