Kisah Google, Twitter & Facebook yang Kesulitan Masuk China

Fintech - Bernhart Farras, CNBC Indonesia
22 April 2019 20:22
Jakarta, CNBC Indonesia - Banyak perusahaan teknologi asal AS (Amerika Serikat) yang menyerah di pasar China. Bukan hanya karena penjualan dan domestikasi, tetapi khususnya Facebook dan Google juga kesulitan karena persayaratan yang rumit dan berbeda dengan di AS.

Pemerintah China memiliki banyak undang-undang dan peraturan yang melarang konten online yang dianggap ilegal atau tidak pantas. Cyberspace Administration of China (CAC) dalam beberapa tahun terakhir telah memperkenalkan peraturan terperinci yang mencakup layanan online baru saat mereka semakin populer.

Salah satu aturan baru CAC, yang mulai berlaku pada bulan November 2018, memerintahkan platform media sosial yang menampung video pendek, streaming langsung, dan microblog lainnya untuk menilai risiko mereka secara berkala ketika menyangkut mobilisasi massal.


Selain politik, sensor internet China juga menyaring konten yang menggambarkan seks, kekerasan, ketelanjangan, dan hubungan seks yang sama, di antara topik lainnya.


Berikut beberapa penghalang Google, Twitter, dan Facebook masuk ke China:

Firewall

Internet China sering dibuat bercandaan dengan disebut "intranet" karena Great Firewall yang merupakan jaringan sistem penyaringan internet kompleks yang digunakan di China untuk memblokir akses ke ribuan situs web asing. Beberapa organisasi yang terkena dampaknya adalah The New York Times dan jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook.

Salah satu cara termudah untuk melewati Great Firewall adalah dengan menggunakan jaringan pribadi virtual (VPN), yang menciptakan saluran terenkripsi antara pengguna dan internet. Tetapi dalam beberapa tahun terakhir pihak berwenang telah menindak layanan VPN yang tidak sah, dengan pengguna didenda dan penjual VPN dipenjara dalam beberapa kasus.

Di sisi lain, aplikasi alternatif yang beredar di China sekarang menyediakan 800 juta penggunanya dengan ekuivalen domestik dari hampir setiap layanan online global - yang dikenakan sensor pemerintah. Contohnya, Baidu untuk Google, Weibo untuk Twitter, dan iQiyi untuk Netflix, dan beberapa merek china lainnya.

Cegat lalu lintas dengan DDos

Aparat sensor China juga memiliki cara untuk mencegat dan mengarahkan sejumlah besar lalu lintas web ke situs tertentu sehingga mereka akan macet. Serangan yang disebut DDoS (Distributed Denial of Service) diatur oleh sistem ofensif terpisah yang terletak bersama dengan Great Firewall, menurut laporan 2015 oleh Citizen Lab, sebuah kelompok penelitian di University of Toronto. Alat serangan baru China itu dinamakan "Great Cannon".

Target pertama yang diketahui dari Great Cannon adalah layanan yang dirancang untuk menghindari sensor Tiongkok, termasuk dua halaman di situs penyedia kode GitHub, menurut Citizen Lab. Pada bulan Maret 2015, GitHub beberapakali menjadi offline karena berjuang melawan serangan DDoS 5 hari yang berasal dari Tiongkok.

(roy/roy)
1 dari 2 Halaman
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading