Internasional

Kisah Amazon Jadi Perusahaan Paling Mahal di Dunia

Fintech - Roy Franedya, CNBC Indonesia
08 January 2019 12:35
Kisah Amazon Jadi Perusahaan Paling Mahal di Dunia
Jakarta, CNBC Indonesia - Amazon kini menjadi perusahaan publik paling bernilai di dunia, setelah berhasil melampaui kapitalisasi pasar Microsoft. Pada Senin (7/1/2019) harga saham Amazon ditutup dengan nilai pasar US$796,8 miliar atau setara Rp 11.155,2 triliun (asumsi US$1 = Rp 14.000).

Ada sejumlah alasan mengapa investor tetap membeli saham Amazon, sebagian besar karena perusahaan tetap ekspansi meski ukuran perusahaan sudah cukup besar.



CNBC International melaporkan, pada perdagangan Senin (7/1/2019), harga saham Amazon naik 3,4% menjadi US$ 1,629.51 per saham dan sejak awal Januari, saham Amazon sudah menanjak 8,5% pada 2019.


Berikut lima hal yang membuat investor tetap mengkoleksi saham Amazon.

Foto: Arie Pratama

1. Cloud

Amazon Web Services (AWS) merupakan pemain besar dalam bisnis ini. Menurut Synergy Research Group, pendapatan tahunan AWS mencapai US$23 miliar dengan pangsa pasar 40%. Dengan jutaan pelanggan aktif, AWS memiliki lebih dari 140 layanan untuk pengembang dan bisnis yang terus berkembang.

Fasilitas cloud Amazon akan datang ke Bahrain, Hong Kong, Italia, dan Afrika Selatan, dan perusahaan itu berlomba-lomba untuk memenangkan kontrak Pertahanan Departemen AS sebesar US$ 10 miliar. AWS juga menguasai lebih banyak pelanggan korporat besar dalam bentuk kontrak jangka panjang.
2. Dominasi e-commerce

Amazon telah mengembangkan banyak bisnis , tetapi bisnis intinya masih berupa e-commerce. Tahun lalu, Amazon menyumbang setengah penjualan e-commerce di Amerika Serikat (AS). Menurut eMarketer sekitar 90% dari pendapatan Amazon berasal dari penjualan ritel.

Dalam bisnis ritel Amazon, pasar pihak ketiga menjadi lebih penting dari sebelumnya. Marketplace menyumbang 31,3% dari semua penjualan online AS. Namun Amazon memiliki ruang bertumbuh yang besar karena pangsa pasar masih 5% dari penjualan ritel di AS.

Selain itu, perusahaan besutan Jeff Bezos itu juga melebarkan sayap ke bisnis ritel konvensional melalui akuisisi Whole Foods.

Foto: REUTERS/Abhishek N. Chinnappa

3. Bisnis kesehatan, Alexa, dan iklan

Amazon punya mesin uang menarik lainnya. Iklan tumbuh pesat sebesar 122% pada kuartal III-2018, lebih dari US$2,5 miliar. Semakin banyak pengiklan mengalokasikan sebagian dari anggaran mereka ke Amazon.

Healthcare adalah fokus besar lain bagi Amazon, setelah akuisisi PillPack (farmasi online) tahun lalu sekitar US$ 1 miliar. Alexa, asisten pinter online, juga menghasilkan uang ketika orang menggunakan jasanya untuk membeli produk. Layanan ini baru-baru ini terintegrasi dengan Microsoft Cortana.


4. Tim yang solid dan loyal


Salah satu perbedaan utama antara Amazon dan raksasa teknologi lainnya adalah manajemen yang solid. CEO Amazon Jeff Bezos telah mengumpulkan sekelompok eksekutif yang sangat setia di puncak perusahaan, dengan banyak dari mereka telah bekerja di Amazon selama bertahun-tahun.

Be-S-Team Bezos, yang dilaporkan berisi kurang dari 20 eksekutif, dikenal sangat stabil, bagian dari budaya Amazon yang pernah disorot oleh CEO selama pertemuan staf internal.


5. Sedikit drama


belakang Amazon menghadapi sejumlah masalah termasuk serangan Presiden Donald Trump yang ingin mengetatkan bisnis e-commerce. Tetapi tidak satu pun dari masalah-masalah itu yang menjadi risiko langsung bagi Amazon, kata analis. Bandingkan dengan perjuangan Apple di China dan skandal privasi Facebook, dan saham Amazon dipandang investor memiliki risiko rendah.
(roy/prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading