Bisnis Jual Beli Follower Rambah Warganet di Indonesia

Fintech - Ester Christine Natalia, CNBC Indonesia
20 February 2018 15:54
Bisnis Jual Beli Follower Rambah Warganet di Indonesia
Jakarta, CNBC Indonesia – Sekitar tiga bulan yang lalu, Indra (bukan nama sebenarnya), 18 tahun, menyisakan beberapa ratus ribu dari uang sakunya untuk membeli sejumlah pengikut (follower) dan like untuk akun Instagram pribadinya.

Hal itu ia lakukan demi memenangkan sebuah kontes fotografi di kampusnya.

“Ada peluang jadi ya gas [diambil] saja,” kata Indra, mahasiswa Fakultas Ekonomi sebuah kampus swasta di Jakarta, kepada CNBC Indonesia beberapa waktu lalu.


Upaya yang dilakukan Indra pun membuahkan hasil karena akhirnya ia memenangkan kontes tersebut. Belajar dari pengalaman, Indra semakin aktif mengikuti kontes fotografi serupa dengan modal pembelian like dan follower.

Berhubung sering melakukan pembelian, penjual like dan follower langganan Indra menawarkannya kesempatan menjadi seorang reseller atau orang yang menjual kembali produk-produk virtual tersebut.


Prinsip “manfaatkan peluang” pun kembali dipakai Indra. Ia menerima tawaran tersebut lalu membuka akun toko daring yang khusus menjual follower dan like di Instagram.

Indra bukanlah satu-satunya orang di dunia yang memanfaatkan tren media sosial ini. Seiring dengan semakin banyaknya pelaku bisnis yang bekerjasama dengan pengguna media sosial populer, yang dikenal dengan sebutan influencer, dalam rangka mempromosikan produknya, tuntutan untuk mengumpulkan follower dan like pun semakin tinggi.

Pasalnya, jumlah follower dan like dianggap sebagai simbol pengaruh seseorang di dunia maya.

Baru-baru ini The New York Times mempublikasikan sebuah laporan investigasinya tentang bisnis media sosial yang menggiurkan dengan menyorot jual-beli akun palsu dengan data curian di Twitter oleh perusahaan asal Amerika Serikat (AS) bernama Devumi.

Dalam laporan itu disebutkan tidak hanya mereka yang sedang merintis karier sebagai influencer yang menggunakan jasa Devumi, tapi juga selebriti sampai politisi.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa jumlah follower dapat memengaruhi bayaran yang diterima oleh influencer.

Mengutip data yang dikumpulkan oleh Captiv8, perusahaan penghubung influencer dengan merek, seorang influencer dengan 100.000 follower bisa jadi memperoleh rata-rata US$2.000 (Rp 27,2 juta) untuk tweet promosi, sementara influencer dengan jutaan follower diperkirakan memperoleh $20.000.

Indra sendiri menjual 1.000 sampai 3.000 follower Instagram dengan kisaran harga Rp 50.000 sampai Rp 150.000 untuk akun warga negara asing, dan Rp 60.000 sampai Rp 170.000 untuk akun warga negara Indonesia.

Ia mengklaim semua akun itu dioperasikan oleh orang asli yang tidak menyadari kalau akunnya diperjualbelikan. Indra mengaku para pengguna akun dijebak menggunakan situs yang menawarkan follower dan like gratis yang ia sebut sebagai “website phising”.

“Tinggal cari aja di Google, ada banyak banget website phising di situ,” katanya.

Ia menjelaskan situs-situs itu mengharuskan pengguna untuk memasukkan username dan password akun Instagramnya dengan iming-iming follower dan like gratis.

“Padahal itu penipuan. Data mereka diambil untuk dijual, padahal mereka enggak dapat satu pun follower atau like,” ungkap Indra.

Meski baru beberapa bulan menjalankan usaha sebagai penjual follower Instagram, Indra mengaku biasa meraup untung mencapai Rp 2 juta dalam satu minggu. Namun, ia mengatakan belakangan bisnisnya menurun karena berkurangnya kepercayaan konsumen akibat maraknya penipuan.

Ia mengatakan banyak akun penipuan dengan modus menjual produk virtual serupa dengan harga miring.

“Biasanya setelah konsumen transfer [pembayaran], mereka akan minta username dan password-nya untuk di-hack. Uang hilang, akun medsosnya juga hilang,” kata Indra. Ia juga menambahkan akun penipu umumnya mengunci kolom komentar dan menjual produk dengan harga lebih murah dari pasaran, meski ia mengaku memang susah untuk membedakan antara akun penipu dengan yang tidak.

Di sisi lain, Unggul Wisesa Haddad yang akrab disapa Dadad, 28 tahun, yang berprofesi sebagai seorang foodgrammer di Instagram mengaku tidak terganggu dengan maraknya bisnis jual beli follower dan like untuk mendongkrak popularitas.

Dadad mengoperasikan sebuah akun khusus kuliner @javafoodie yang memiliki follower lebih dari 148.000. Ia mengaku belum pernah, bahkan, tidak tertarik membeli follower untuk akun yang membuatnya mengantongi puluhan juta rupiah dalam sebulan.


Ia berpendapat jumlah follower hanyalah sebatas angka yang tidak menjadi patokan kepopuleran apalagi kesuksesan seseorang.

“Menurut saya follower itu semu. Mau follower 100.000 asli [ataupun] enggak asli, kalau kontennya enggak membuat orang tertarik ya bakal kalah sama yang follower cuma 10.000 tapi [kontennya] menarik,” kata Dadad beberapa waktu lalu.

Agar para pengguna media sosial tetap tertarik untuk mengikuti akunnya, Dadad konsisten mengunggah foto-foto makanan lengkap dengan informasi yang dibutuhkan para warganet, yaitu kisaran harga, alamat, jam buka, dan ulasan singkat.

Ia juga bersyukur karena Instagram menghadirkan fitur yang memungkinkan pelaku bisnis di kanal tersebut untuk menganalisa interaksi akun dan postingan.

“[Fitur itu] bisa jadi andalan waktu orang mempertanyakan kredibilitas. Jadi, kita bisa bersaing sama yang follower-nya bisa dibilang lebih banyak dari kita,” katanya. (prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading