Karyawan Terancam Dipenjara Usai Sadap Ucapan Bos Saat Rapat

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
04 November 2026 10:22
Ilustrasi HP dibajak.
Foto: Ilustrasi HP/Arie Pratama

Jakarta, CNBC Indonesia - Rapat eksekutif OpenAI diduga disadap. Pelakunya adalah seorang engineer perusahaan berkebangsaan Arab Saudi bernama Abdulrahman Alfozan (35) dan telah diciduk agen federal Amerika Serikat (AS).

Kasus ini terbongkar saat staf OpenAI menemukan perangkat perekam di bagian belakang TV pada 30 September 2026. Alat itu dicolokkan melalui porta USB dan dilengkapi dengan mikrofon serta terhubung dengan kamera yang disembunyikan di balik gulungan tisu toilet dalam ruang rapat.

Menurut dokumen pengaduan FBI, perangkat seukuran ibu jari itu dipasang sekitar 28 September 2026. Perangkat serupa kemudian ditemukan dalam tas pribadi Alfozan.

Temuan lainnya adalah Alfozan sempat menggunakan agen produktivitas berbasis AI selama satu bulan hingga 16 September 2026. Dia menggunakannya untuk melacak jadwal kalender dan kapabilitas ruang rapat eksekutif.

Perusahaan menggunakan model AI internal untuk melacak asal usul perangkat dan mengidentifikasi oknum pemasangan alat sadap. Hasilnya ditemukan pelaku ingin memperluas aksinya untuk mendapatkan lebih banyak alat perekam pada area sensitif.

OpenAI juga memastikan pelaku telah dipecat setelah aksinya ketahuan.

"Hingga saat ini, kami tidak menemukan indikasi bahwa individu tersebut secara tidak sah mengakses atau mengeluarkan bobot model (model weights), kode sumber, maupun data pelanggan. Pegawai yang bersangkutan telah kami pecat," tegas pernyataan resmi OpenAI.

Kasus ini telah diserahkan langsung pada Biro Investigasi Federal (FBI). Lembaga itu melakukan pengusutan lebih lanjut dan menemukan Alfozan mencuri komunikasi sensitif soal teknologi superintelligence milik perusahaan.

Alfozan terancam hukuman penjara hingga lima tahun karena perbuatannya. Dia juga dapat didenda US$250 ribu dan tiga tahun masa pelepasan bersyarat.

Sebelum kasus penyadapan ini, OpenAI juga mendapati sejumlah karyawannya melanggar kebijakan penanganan informasi sensitif. Tiga orang penelitinya yakni Jasmine Wang, Tomek Korbak, dan Mikita Balesni langsung dipecat.

Ditebus Keluarga Raja Arab

Menurut jaksa dalam dokumen pengadilan, Alfozan kerap berkomunikasi dengan anggota keluarga kerajaan Saudi. Bahkan seorang pejabat militer Saudi membayar tiket pesawat sekali jalan bagi istri dan putra Alfozan ke Araba Saudi setelah dia ditangkap.

"Terdakwa berupaya membuat perangkat perekam terenkripsi yang disesuaikan untuk diam-diam merekam pertemuan yang sangat sensitif melibatkan personel dan eksekutif senior OpenAI, rekan bisnis tingkat tinggi dan pejabat pemerintah, sambil berkomunikasi dengan individu-individu penting di Arab Saudi serta mengejar peluang dan berencana melakukan perjalanan ke Arab Saudi," isi memo penahanan, dikutip dari Reuters, Selasa (20/10/2026).

Bahkan, Konsulat Arab Saudi di Los Angeles bersedia membayar uang jaminan berapa pun untuk membebaskan Alfozan. Namun, hakim menolak mentah-mentah tawaran tersebut karena Alfozan dinilai berisiko kabur ke luar negeri.

Pengacara Alfozan mengatakan rencana perjalanan kliennya telah dipesan jauh sebelum dirinya dalam penyelidikan. Tujuannya terkait alasan keluarga dan imigrasi.

Kepergian Alfozan rencananya berlangsung selama dua bulan. Sementara istri dan anaknya disebut akan pindah secara permanen di Arab Saudi dan Alfozan juga akan bergabung nanti.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Arab Mau Tebus Mata-Mata di OpenAI dari Penjara, Berapa Pun Dibayar


Most Popular
Features