Belum Rilis, China Sudah Borong Produk Baru Manusia Rp 3.500 Triliun

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
22 October 2026 07:40
Nvidia CEO Jensen Huang and his wife Lori Huang and Tim Cook, chairman of the board of directors of Apple, attend a state dinner hosted by US President Donald Trump and first lady Melania Trump for Chinese President Xi Jinping and his wife, Peng Liyu
Foto: REUTERS/Evelyn Hockstein

Jakarta, CNBC Indonesia - Tiga raksasa teknologi China, ByteDance, Alibaba, dan Tencent, memesan lebih dari 3 juta kartu grafis terbaru Nvidia RTX PRO 5500 dengan nilai gabungan lebih dari US$ 35 miliar atau sekitar Rp632 triliun. Pemesanan ini dilakukan di tengah pembatasan ekspor chip Amerika Serikat (AS) ke China.

Mengutip laporan Reuters, Rabu (21/10/2026), dua sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan Nvidia belum bisa menjamin seluruh pesanan terpenuhi. Permintaan perusahaan teknologi China jauh melampaui kapasitas produksi yang direncanakan.

Nvidia RTX PRO 5500 merupakan chip untuk workstation atau komputer profesional berkinerja tinggi, bukan untuk data center berskala besar yang menjalankan prosesor kecerdasan buatan (AI) tercanggih Nvidia. Namun, chip ini termasuk yang paling kuat dan masih tersedia bagi pembeli di China.

Ketiga perusahaan tersebut memesan chip dengan harga sekitar US$ 11.400 per unit. Sementara itu, perusahaan asal Amerika Serikat (AS) itu diperkirakan hanya mampu memproduksi maksimal 3 juta kartu RTX PRO 5500 secara global pada 2027. Salah satu sumber menyebut Nvidia memperkirakan mitranya hanya akan menerima 5%-10% dari jumlah yang diminta.

Pembatasan ekspor AS membuat sejumlah chip Nvidia yang lebih canggih tidak bisa dijual bebas ke China. Chip B300 berbasis Blackwell dilarang diekspor ke negara tersebut, sedangkan penjualan H200 berbasis Hopper harus melalui peninjauan kasus per kasus dan memenuhi persyaratan lisensi.

Perusahaan teknologi China berencana menggunakan RTX PRO 5500 terutama untuk AI inference, yakni menjalankan model AI yang telah dilatih untuk menghasilkan jawaban chatbot. Proses ini umumnya membutuhkan daya komputasi lebih rendah dibandingkan pelatihan model AI menggunakan kumpulan data berukuran besar.

Lonjakan permintaan tersebut menunjukkan perusahaan China masih membutuhkan chip Nvidia di tengah keterbatasan pasokan komputasi. Pembatasan AS juga mendorong perusahaan China beralih ke pemasok domestik, termasuk Huawei, meski produsen chip lokal masih kesulitan menyamai kemampuan produk Amerika.

Juru bicara Nvidia mengatakan produsen chip dan kartu workstation di China mengalami pertumbuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak pembatasan diberlakukan pada 2022.

"Perusahaan-perusahaan AS terus dibatasi oleh kombinasi kontrol ekspor AS yang sudah ketinggalan zaman, yang mencakup produk gaming yang dirilis hampir setengah dekade lalu, serta pembatasan China sendiri terhadap impor dari AS," kata juru bicara Nvidia.

Reuters melaporkan Nvidia juga menghadapi tantangan produksi. Mulai 2027, perusahaan diperkirakan mengalokasikan sebagian besar kapasitas produksinya di Taiwan Semiconductor Manufacturing Co (TSMC) untuk Rubin, platform generasi berikutnya yang dirancang bagi pusat data berskala besar.

Nvidia telah memberitahu pelanggan bahwa sampel awal RTX PRO 5500 diperkirakan tersedia pada Desember, sementara pengiriman komersial dimulai pada kuartal I-2027.

Sementara itu, harga pasar chip RTX 6000D, produk dengan kemampuan serupa yang kini telah dihentikan produksinya, dilaporkan meningkat dua kali lipat di China. Kondisi ini memperlihatkan semakin ketatnya pasokan chip di tengah tingginya kebutuhan komputasi AI.

Jensen Huang, CEO Nvidia, dilaporkan aktif melobi pemerintah AS termasuk Presiden Donald Trump untuk memberikan akses lebih besar kepada China untuk produk chip buatannya.

Huang, salah satu orang terkaya dunia dengan harta Rp3.500 triliun, menegaskan bahwa Nvidia harus menjalin kerja sama dengan berbagai perusahaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) asal China. Kerja sama ini dinilai krusial untuk mengawasi serta memitigasi risiko dari teknologi yang ia sebut "berpotensi berbahaya".

"Kita mutlak harus saling bekerja sama agar bisa memajukan teknologi ini secara aman," tegas Huang dalam sesi media briefing di London, dikutip dari CNBC International, Jumat (16/10/2026).

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Tanda China Mulai Melunak, Buka Pintu Lebar-Lebar Buat Amerika


Most Popular
Features