Es Kiamat Terus Mencair Padahal Laut Makin Dingin, Tak Bisa Disetop

Redaksi,  CNBC Indonesia
19 October 2026 14:40
Thwaites Glacier. (Dok https://thwaitesglacier.org/)
Foto: Thwaites Glacier. (Dok https://thwaitesglacier.org/)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gletser Thwaites di Antartika, yang dijuluki "gletser kiamat", ternyata akan terus mencair sekalipun suhu laut di sekitarnya turun dan mendingin. Studi terbaru menunjukkan pencairannya sudah berjalan sedemikian rupa sehingga tidak dapat dihentikan setidaknya dalam 150 tahun ke depan, bahkan di bawah skenario yang paling mustahil sekalipun, dikutip Senin (19/10/2026).

Peneliti dari Survei Antartika Inggris menjalankan simulasi komputer dengan kondisi yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Mereka mematikan sepenuhnya pemanasan laut di sekitar gletser tersebut. Tujuannya untuk mengetahui apakah Gletser Thwaites dapat kembali menebal dan menstabilkan diri jika sumber panasnya hilang.

Hasilnya mengejutkan. Gletser tetangganya, Gletser Pulau Pinus, justru mulai menebal dan maju kembali. Namun Gletser Thwaites tetap mencair sepanjang 150 tahun simulasi, meskipun kecepatannya melambat.

"Kami berharap agar pemanasan laut berhenti, es akan menebal dan kembali maju. Ternyata tidak demikian bagi Thwaites. Ini sungguh di luar dugaan," ujar Rosie Williams, peneliti utama.

Mengapa Thwaites berbeda? Para ilmuwan menduga gletser raksasa ini masih merespons perubahan iklim yang terjadi sejak puluhan tahun silam. Kondisi El Niño yang ekstrem pada tahun 1940-an telah mengguncang keseimbangannya, dan pergerakan es yang sangat lambat berarti dampaknya masih terasa hingga hari ini. Ditambah lagi, pemanasan yang disebabkan manusia selama empat dekade terakhir telah mendorong gletser ini ke arah ketidakstabilan yang sulit dikembalikan.

Gletser Thwaites luasnya seukuran Inggris Raya. Jika runtuh sepenuhnya, ia dapat memicu keruntuhan seluruh lapisan es Antartika Barat dan menaikkan permukaan laut dunia hingga 5 meter. Kota-kota pesisir di seluruh dunia, termasuk banyak wilayah di Indonesia, akan terancam tenggelam.

Meskipun pencairan tidak dapat dihentikan sepenuhnya, para peneliti menegaskan upaya mengurangi emisi tetap sangat penting. Makin melambatnya laju pemanasan, makin lambat gletser itu mencair. Hal ini memberikan waktu lebih lama bagi dunia untuk beradaptasi dan menaikkan pertahanan pesisir sebelum air laut naik.

"Kita belum melewati titik tidak bisa kembali sepenuhnya. Jika pemanasan dapat ditekan, keruntuhan mendadak yang memicu kenaikan air laut ekstrem masih dapat dicegah," ungkap Mathieu Morlighem dari Dartmouth College.

Namun studi lain yang diterbitkan pekan ini menyampaikan kabar kurang baik. Model terbaru menunjukkan gletser ini dapat mundur lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya, sehingga kenaikan permukaan laut bisa dua kali lipat lebih besar dibandingkan perhitungan terdahulu.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Menteri AHY Benar, Bukti Kondisi Indonesia Sudah Genting Makin Banyak


Most Popular
Features