Laut Mati Mengering, Manusia di Seluruh Dunia Rasakan Dampaknya

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
19 October 2026 08:15
Laut mati. (Dok. Pexels)
Foto: Laut mati. (Dok. Pexels)

Jakarta, CNBC Indonesia - Laut Mati mengalami penyusutan permukaan air sekaligus peningkatan suhu di waktu yang bersamaan.

Penelitian terbaru menemukan, penyusutan air tidak hanya dipicu oleh kenaikan suhu udara, tetapi juga dapat mempercepat pemanasan air dan memicu penguapan pada danau dengan kadar garam sangat tinggi itu.

Pengalihan air yang seharusnya mengalir ke danau tersebut oleh aktivitas manusia turut menyebabkan permukaan air terus menurun dan garam mengendap.

Penelitian yang dipimpin Emmanuel Guillerm dari GFZ Helmholtz Centre for Geosciences di Jerman dan Binghamton University di Amerika Serikat (AS) mengungkap hubungan antara penyusutan air, peningkatan konsentrasi garam, dan pertukaran panas di Laut Mati.

Antara 1979 dan 2019, permukaan air Laut Mati turun sekitar 34 meter. Dalam periode yang sama, suhu air di lapisan dalam meningkat 2,8 derajat Celsius, sedangkan suhu lapisan atas naik sekitar 1,7 derajat Celsius.

Tim peneliti mengembangkan model untuk memisahkan pengaruh kenaikan suhu udara dan penurunan permukaan air terhadap pemanasan danau. Hasil simulasi menunjukkan, kenaikan suhu udara berkontribusi sekitar 1,3 derajat Celsius terhadap pemanasan air di lapisan dalam hingga dekade 2010-an. Sementara itu, penurunan permukaan air menyumbang sekitar 1,5 derajat Celsius.

Mekanisme ini berkaitan dengan proses penguapan. Penguapan biasanya membawa panas keluar dari air sehingga mendinginkan air yang tersisa, seperti keringat yang menguap dari tubuh manusia.

Namun, tingginya konsentrasi garam mengubah proses tersebut. Garam terlarut mengurangi kecenderungan air untuk menguap pada suhu tertentu. Ketika air terus menghilang dan konsentrasi garam meningkat, efek pendinginan akibat penguapan pun melemah.

Akibatnya, air yang tersisa dapat menjadi lebih hangat. Ketika suhu air lebih tinggi daripada suhu udara di atasnya, perbedaan suhu tersebut dapat mempertahankan penguapan meskipun kadar garamnya tinggi. Kondisi ini menciptakan lingkaran umpan balik yaitu penyusutan air meningkatkan suhu, sedangkan pemanasan turut mendorong penguapan dan kehilangan air lebih lanjut.

"Bagian dari pemanasan air ini disebabkan oleh pengalihan air, dan menambah pemanasan air akibat kenaikan suhu udara antropogenik," kata Guillerm, dikutip dari Science Alert, Jumat (9/10/2026).

Panas juga dapat berpindah ke lapisan air yang lebih dalam. Pada musim panas, air yang lebih hangat dan lebih asin berada di atas air yang lebih dingin dengan kadar garam sedikit lebih rendah. Karena panas berdifusi lebih cepat daripada garam, aliran air yang turun dapat membawa panas dan garam ke lapisan dalam melalui proses yang disebut salt fingering.

Selain itu, pencampuran air pada musim dingin membantu menyalurkan pemanasan dari atmosfer ke lapisan yang lebih dalam.

Peneliti kemudian menggunakan model tersebut untuk memproyeksikan kondisi Laut Mati hingga 2100 dalam dua skenario pemanasan. Simulasi mengasumsikan seluruh aliran air masuk berhenti, pengambilan air untuk keperluan industri dihentikan, dan danau tetap mengalami pencampuran air setahun sekali.

Dalam kondisi tersebut, permukaan air diproyeksikan turun sekitar 85 meter hingga 2100. Suhu air juga diperkirakan meningkat sekitar 5-8 derajat Celsius, bergantung pada tingkat emisi gas rumah kaca.

Meski demikian, proyeksi tersebut memiliki keterbatasan. Tidak memperhitungkan aliran air masuk cenderung membuat penurunan permukaan dan pemanasan terlihat lebih besar. Sebaliknya, tidak memperhitungkan pengambilan air untuk industri cenderung membuat kehilangan air terlihat lebih kecil. Aliran air tanah yang masuk ke danau juga masih belum diketahui secara pasti.

Penelitian tersebut turut menemukan bahwa peningkatan konsentrasi garam dapat mempertahankan pemanasan bahkan setelah kenaikan suhu udara yang dimasukkan ke dalam simulasi dihentikan.

Guillerm mengatakan, pemulihan aliran air tawar ke Laut Mati seperti kondisi historisnya dapat menghentikan penurunan permukaan air. "Pemanasan akibat peningkatan salinitas akan berhenti," jelasnya.

Menurut dia, lapisan air tawar yang lebih encer di permukaan juga dapat mengisolasi lapisan dalam dari pemanasan atmosfer, meskipun pemanasan tetap berlangsung di permukaan.

Mineral-mineral dan air asin purba yang hangat secara tidak lazim ini sering kali ditafsirkan sebagai bukti kondisi yang sangat panas atau kering.

Model penelitian ini menunjukkan bahwa isolasi dan penyusutan dapat menghasilkannya bahkan dalam kondisi iklim regional yang tidak terlalu ekstrem.

Para peneliti mengusulkan penggunaan data perubahan suhu tersebut untuk menelusuri seberapa jauh permukaan laut purba turun saat laut itu menyusut.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Dikira Mencair, Es di Kutub Selatan Malah Tambah 695 Miliar Ton


Most Popular
Features