Dikira Mencair, Es di Kutub Selatan Malah Tambah 695 Miliar Ton

Redaksi,  CNBC Indonesia
07 September 2026 19:00
Jumlah lapisan es laut yang mengelilingi Benua Antarktika kini sudah berkurang dari sebelumnya. Hal itu ditangkap oleh satelit yang sudah digunakan sejak akhir 1970-an.
Foto: Anadolu Agency via Getty Images/Anadolu Agency

Jakarta, CNBC Indonesia - Selama dua puluh tahun terakhir, es di Antartika terus berkurang dengan laju kecepatan yang mengkhawatirkan. Namun dalam 3 tahun terakhir, hal yang tidak terduga justru terjadi.

Daratan es di Antartika Timur malah bertambah tebal 695 miliar ton. Penambahan ini menjadi yang terbesar sepanjang pengamatan satelit yang pernah dilakukan, dan ternyata penyebabnya bukan dari sekitar benua itu sendiri, melainkan dari ribuan kilometer jauhnya di perairan tropis, dikutip dari laporan jurnal Nature, Senin (7/9/2026).

Peneliti dari Akademi Ilmu Pengetahuan China menemukan bahwa pemanasan suhu permukaan laut di kawasan perairan hangat tropis, tepatnya di perbatasan Samudra Pasifik Barat dan Samudra Hindia Timur. Pemanasan ini memicu perubahan pola angin di atmosfer yang merambat hingga ke benua Antartika. Perubahan pola tekanan udara itu kemudian mengarahkan aliran uap air dari Samudra Hindia menuju Antartika Timur, sehingga turun salju yang sangat lebat dalam kurun waktu berbulan-bulan.

Akumulasi salju itulah yang akhirnya menambah massa benua es secara sementara.

Panas di Laut Justru Menciptakan Salju

Kaitan tersebut tampak mustahil pada awalnya. Lautan yang makin panas di khatulistiwa justru menambah tebalnya es di kutub selatan.

Penelitian membuktikan bahwa panas yang terperangkap di perairan tropis itu memicu gelombang tekanan udara yang merambat jauh ke selatan. Pola tekanan yang terbentuk kemudian menciptakan jalur udara lembap yang mengalir terus-menerus dari Samudra Hindia menuju pesisir Antartika Timur.

Udara yang sarat uap air itu tiba di benua yang membeku lalu turun sebagai salju lebat. Selama tahun 2021 hingga 2023, hujan salju terus menerus turun di wilayah Queen Mary dan Wilkes Land, sehingga menumpuk menjadi lapisan es tambahan yang sangat besar. Secara keseluruhan, es di Antartika bertambah 695 miliar ton sehingga cukup untuk menahan sementara laju penurunan massa es yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Peneliti menegaskan bahwa penambahan besar ini hanyalah peristiwa sementara dan tidak berarti ancaman es mencair sudah berlalu. Peristiwa seperti ini terjadi kira-kira sekali dalam 10 tahun, tergantung fluktuasi suhu laut tropis. Antartika secara keseluruhan masih kehilangan es rata-rata 140,5 miliar ton per tahun dalam dua dekade terakhir. Bagian Antartika Barat bahkan terus mencair dengan laju yang makin cepat akibat pemanasan air laut yang mengikis lapisan es dari bawah.

Artinya, meskipun sesaat terlihat seolah-olah benua es tumbuh kembali, fenomena ini hanyalah penundaan sesaat akibat perubahan pola cuaca jangka pendek. Pemanasan global yang terus berlangsung tetap menjadi ancaman utama yang perlahan namun pasti meluluhlantakkan benua es di ujung selatan bumi.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Petaka El Nino Makin Parah, Ilmuwan Peringatkan Dampaknya di Indonesia


Most Popular
Features