Elon Musk Tukang Olah, Jadi Penasihat Pemerintah Dikasih Proyek Negara
Jakarta, CNBC Indonesia - Pentagon menunjuk CEO Tesla dan SpaceX Elon Musk untuk membantu menentukan teknologi dan persenjataan yang dibutuhkan militer Amerika Serikat (AS) untuk perang di masa depan.
Musk akan memimpin inisiatif bernama Project Meridian bersama pengusaha teknologi pertahanan sekaligus pendiri Anduril, Palmer Luckey, dan mantan Ketua DPR AS Newt Gingrich.
Proyek ini bertujuan mengidentifikasi kemampuan militer, teknologi, serta senjata yang mungkin dibutuhkan AS dalam beberapa tahun hingga beberapa dekade mendatang.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan Project Meridian akan berjalan selama 120 hari untuk memetakan bagaimana peperangan dapat berubah dan teknologi apa yang diperlukan militer AS agar tetap unggul secara teknologi.
"Project Meridian, masa depan peperangan, bukan tentang mengembangkan strategi atau kebijakan baru," kata Hegseth, seperti dikutip CNBC Internasional, Senin (5/10/2026).
Menurut dia, proyek tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi domain dan kemampuan yang harus dikuasai.
Hegseth mengatakan Project Meridian akan berfokus pada menemukan, mengembangkan, dan menerjunkan senjata serta sistem yang mungkin dibutuhkan pasukan AS di medan perang masa depan, mulai dari wilayah bawah tanah hingga Bulan.
Pentagon akan melibatkan kepala teknologi pertahanannya, Emil Michael, untuk mengawasi proyek tersebut. Sementara Musk, Luckey, dan Gingrich akan bertindak sebagai pemimpin bersama. Tim yang lebih luas juga akan melibatkan perwakilan pemerintah, industri, akademisi, dan pembuat kebijakan.
Penunjukan Musk menjadi sorotan karena perusahaan yang dipimpinnya telah memiliki bisnis besar dengan Departemen Pertahanan AS. SpaceX tercatat memegang sejumlah kontrak Pentagon.
Pada Mei lalu, Space Force memberikan SpaceX kontrak senilai US$4,16 miliar untuk membangun satelit yang dirancang melacak dan menargetkan ancaman udara. Beberapa hari sebelumnya, SpaceX juga memperoleh kontrak US$2,29 miliar untuk jaringan komunikasi satelit militer.
Luckey juga memiliki kepentingan bisnis di sektor pertahanan melalui Anduril. Perusahaan tersebut mengembangkan senjata otonom dan berbagai teknologi militer. Pada 2025, Korps Marinir AS memberikan Anduril kontrak senilai hingga US$642 juta untuk sistem penangkal drone.
Ketiga pemimpin Project Meridian itu tidak memiliki pengalaman bertugas di militer AS. Musk bahkan pernah pindah ke Kanada saat remaja, salah satunya karena, menurut pengakuannya, ingin menghindari wajib militer di Afrika Selatan.
Penunjukan tersebut menjadi bagian dari langkah lebih luas Pentagon untuk memperluas penggunaan sistem otonom dalam peperangan. Pada hari yang sama, Hegseth juga mengumumkan rencana pembentukan Autonomous Warfare Command baru dengan status komando bintang empat untuk mempercepat pengembangan dan penggunaan sistem otonom serta robotik di lingkungan militer AS.
Tesla, SpaceX, Anduril, dan Gingrich belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait penunjukan tersebut.
(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]