Tesla Maut Berhenti Mendadak di Tol, Teknologi Autopilot Jadi Sorotan

Intan Rakhmayanti , CNBC Indonesia
Kamis, 03/09/2026 21:00 WIB
Foto: Mobil Tesla Model Y. (Dok. Pexels)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah kecelakaan maut yang melibatkan mobil Tesla kembali menjadi sorotan. Berdasarkan investigasi situs Electrek, indikasi sistem bantuan mengemudi Level 2 Tesla aktif dalam waktu 30 detik sebelum kendaraan mengalami kecelakaan.

Dua kecelakaan terjadi dalam kondisi serupa. Tesla tiba-tiba berhenti di tengah jalan bebas hambatan yang ramai, kemudian ditabrak kendaraan lain hingga menewaskan pengemudinya, demikian menurut laporan yang dikutip dari TechRadar, Kamis (3/9/2026).


Kecelakaan pertama terjadi sekitar pukul 03.00 pada 31 Oktober 2025 di Mesa, Arizona. Sebuah sedan Tesla berhenti di tengah jalan tol sebelum ditabrak pikap Ford F-350.

Kasus kedua terjadi sekitar pukul 21.25 pada 6 Oktober 2025 di Seminole County, Florida. Tesla Model 3 keluaran 2020 berhenti di lajur tengah arah timur Interstate 4 (I-4). Kendaraan tersebut kemudian terserempet truk semi, terdorong, lalu menabrak truk lainnya.

Menurut Electrek, laporan kecelakaan yang sebelumnya dirilis tidak mengungkap penyebab kedua Tesla berhenti secara tiba-tiba. Namun, pencocokan dengan laporan kecelakaan Tesla yang telah disunting menunjukkan teknologi berkendara otomatis sedang aktif dalam kedua kejadian tersebut.

Berdasarkan aturan Standing General Order, produsen mobil wajib melaporkan kecelakaan ketika sistem bantuan mengemudi Level 2 aktif dalam waktu 30 detik sebelum benturan. Tesla juga wajib mematuhi aturan tersebut.

Dalam laporan kecelakaan di Florida yang diperoleh Electrek, status keterlibatan teknologi berkendara otomatis tercatat "Verified Engaged". Laporan itu juga menyebut kendaraan berada dalam kondisi berhenti dengan kecepatan 0 mil per jam sebelum kecelakaan.

Namun, Tesla menutupi sejumlah informasi penting dalam laporan tersebut dengan alasan 'informasi bisnis rahasia'. Bagian yang disensor mencakup kronologi kecelakaan, versi perangkat lunak, serta informasi mengenai apakah jalan tersebut berada dalam area operasi yang disetujui sistem.

Akibat penyensoran itu, belum bisa dipastikan apakah kendaraan menggunakan Autopilot atau teknologi Full Self-Driving (FSD) yang lebih canggih. Penyebab kendaraan tiba-tiba berhenti di tengah jalan juga belum dapat diketahui secara pasti.

Laporan Electrek tidak secara langsung menyalahkan sistem berkendara otomatis Tesla. Namun, salah satu kemungkinan yang disorot adalah fenomena phantom braking, yakni sistem mengerem secara tiba-tiba karena mendeteksi hambatan yang sebenarnya tidak ada.

Kemungkinan lain juga masih terbuka. Pengemudi bisa saja mengalami kondisi medis atau tertidur sehingga sistem bantuan mengemudi kemudian menghentikan kendaraan.

Saat ini, Tesla juga menghadapi penyelidikan National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) terkait cara perusahaan melaporkan kecelakaan yang melibatkan sistem bantuan mengemudi Level 2.

Rangkaian kasus tersebut turut memunculkan persoalan lain, yakni tingkat kepercayaan pengemudi terhadap teknologi bantuan mengemudi. Sistem Level 2 pada dasarnya masih membutuhkan pengawasan manusia dan belum dapat menangani seluruh kondisi di jalan secara mandiri.

Dengan demikian, meski teknologi Tesla semakin canggih, sistem berkendara otomatis belum sepenuhnya mampu menggantikan peran pengemudi. Pengemudi tetap harus siap mengambil alih kendali ketika sistem menghadapi situasi yang tidak dapat ditanganinya.


(haa/haa)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Peran Teknologi Sistem Pendingin Perkuat Keandalan Data Center