6.000 CEO Ungkap Fakta Tak Terduga, AI Ternyata Tak Berguna

Redaksi, CNBC Indonesia
Kamis, 06/08/2026 13:25 WIB
Foto: Ilustrasi artificial Intelegence (AI). (REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) ternyata belum memberikan dampak signifikan bagi dunia usaha. Berdasarkan hasil riset terhadap hampir 6.000 eksekutif perusahaan di Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Australia, mayoritas pimpinan perusahaan belum melihat adanya perubahan berarti, baik pada tingkat produktivitas maupun penyerapan tenaga kerja akibat penggunaan AI.

Mengutip laporan The Register, studi yang dilakukan oleh National Bureau of Economic Research (NBER) di Massachusetts ini melibatkan para CEO, CFO, serta eksekutif dari berbagai skala perusahaan di keempat negara tersebut.

Hasil survei menunjukkan bahwa lebih dari 80% responden tidak mendeteksi dampak yang jelas dari AI terhadap ketenagakerjaan maupun produktivitas perusahaan, demikian dikutip dari The Register, Senin (3/8/2026).


Tingkat Adopsi Tinggi, Dampak Riwayat Bisnis Masih Minim

Secara statistik, adopsi teknologi ini sebenarnya sudah cukup masif:

  • Sekitar 69% perusahaan saat ini telah menggunakan AI dalam berbagai bentuk.

  • Sebanyak 75% perusahaan memperkirakan akan mengadopsi AI dalam kurun waktu tiga tahun ke depan.

Adopsi AI yang paling umum dilakukan adalah untuk pembuatan teks menggunakan model bahasa besar (Large Language Models atau LLM), diikuti oleh pembuatan konten visual serta pemrosesan data menggunakan machine learning.

Kendati demikian, dampak nyata terhadap operasional bisnis dinilai masih sangat terbatas:

  • Lebih dari 90% manajer menyatakan bahwa AI sama sekali tidak memengaruhi jumlah tenaga kerja di organisasi mereka selama tiga tahun terakhir.

  • 89% responden mengatakan tidak ada perubahan produktivitas yang signifikan, jika diukur dari volume penjualan per karyawan.

Proyeksi Masa Depan dan Ekspektasi Eksekutif

Kendati dampaknya saat ini masih minim, para eksekutif memperkirakan efektivitas AI akan mulai dirasakan dalam tiga tahun mendatang.

NBER memperkirakan penggunaan AI berpotensi mengurangi sekitar 1,75 juta pekerjaan di keempat negara tersebut pada tahun 2028 mendatang. Selain itu, para responden memproyeksikan AI dapat mendongkrak produktivitas bisnis sekitar 1,4% dalam tiga tahun ke depan. Menurut penulis studi, proyeksi ini mengindikasikan potensi pembalikan tren perlambatan pertumbuhan produktivitas jangka panjang di banyak negara maju.

Laporan tersebut juga mencatat adanya perbedaan sudut pandang antara karyawan dan eksekutif senior. Para pekerja umumnya cenderung memperkirakan AI justru akan menciptakan lebih banyak lapangan kerja dalam tiga tahun ke depan, meskipun mereka memprediksi tingkat kenaikan produktivitas yang lebih kecil.

Bukti Nyata: Manfaat Komersial AI Belum Penuhi Ekspektasi

Temuan dari NBER ini semakin menambah daftar bukti bahwa manfaat komersial AI belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi pasar:

  • Survei PwC: Melibatkan lebih dari 4.500 pemimpin bisnis, hasilnya menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden tidak melihat adanya peningkatan pendapatan maupun penurunan biaya setelah mengadopsi AI.

  • Riset Deloitte: Menemukan fakta bahwa 74% organisasi sangat ingin inisiatif AI mereka mendongkrak pendapatan, namun hanya 20% yang benar-benar mengalami hasil tersebut.

  • Uji Coba Microsoft M365 Copilot: Uji coba yang dilakukan pada salah satu departemen pemerintah Inggris dan dipublikasikan pada September lalu tidak menemukan peningkatan produktivitas secara keseluruhan. Sebagian tugas memang menjadi lebih cepat diselesaikan, tetapi tugas lain justru terhambat.

  • Pengakuan Internal: Bahkan Jared Spataro, eksekutif yang memimpin inisiatif Microsoft AI at Work, mengakui adanya kesulitan dalam menunjukkan tingkat pengembalian investasi atau Return on Investment (ROI) dari Copilot. Pasalnya, banyak pekerjaan berbasis pengetahuan tidak secara langsung tercermin dalam metrik pendapatan maupun laba perusahaan.

Di sisi lain, sejumlah petinggi teknologi tetap menyampaikan proyeksi yang agresif. Bulan ini, Kepala Microsoft AI Mustafa Suleyman mengklaim bahwa sebagian besar pekerjaan yang melibatkan aktivitas di depan komputer akan sepenuhnya diotomatisasi oleh AI dalam 12 hingga 18 bulan ke depan. Ia menyebut bidang akuntansi, hukum, pemasaran, dan manajemen proyek sebagai sektor yang paling berpotensi terdampak, sebagaimana dilaporkan oleh Fortune.

Sementara itu, Lenovo baru-baru ini mengklaim bahwa perusahaan di kawasan Eropa dan Timur Tengah justru mempercepat adopsi AI. Sebanyak 94% responden dalam survei mereka memperkirakan bakal memperoleh imbal hasil positif dari investasi AI, kendati semakin banyak riset independen menunjukkan hasil yang belum sesuai harapan.

Secara keseluruhan, berbagai temuan tersebut mengarah pada satu kesimpulan: implementasi AI saat ini kemungkinan besar baru memberikan peningkatan produktivitas yang sangat terbatas. Kondisi ini tampak kontras dengan gelontoran investasi bernilai ratusan miliar dolar yang terus digelontorkan oleh perusahaan-perusahaan teknologi raksasa demi mengembangkan sistem AI.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Akselerasi AI Indonesia Hadapi Tantangan Data Silo, Solusinya?